Showing posts with label Album Review. Show all posts
Showing posts with label Album Review. Show all posts

Album Review : DeadSquad - 'Profanatik'

REVIEW ALBUM
Judul : Profanatik
Artis : DeadSquad
Genre : Brutal Technical Death Metal
Distributor : Amstrecth Records
Tahun : 2013

PREVIEW ALBUM
Berita musik terbaru datang dari album kedua DeadSquad yang ditunggu oleh penggemar akhirnya datang. Dan penungguan selama ini dilakukan dengan penuh pertanyaan. Ketika album pertama adalah new school death metal nan teknis bagai mobil formula satu yang melesat full speed di sirkuit, mau bagaimana lagi album keduanya?


Ternyata itu cukup telak terjawab lewat Profanatik. Mau tak mau harus diakui bahwa BPM baru saja dinaikkan dan membuktikan bahwa album pertama Horror Vision belum full speed, membuat drummer Andyan Gorust terdengar seperti atlet yang kegemarannya minum kopi kental dua liter tiap kali merasa haus.

Namun bukan hanya kecepatan yang ditawarkan. Ini terbukti dari berbagai komposisi lagu yang secara variasi juga meningkat, dari sisi timing stop and go di setiap lagu, atau masuknya warna lain seperti lead guitar jazz dari sang legenda Joppie Item di “Natural Born Nocturnal” yang berfungsi bukan hanya sebagai tempelan. Rasa jazz melebur bersatu dengan kebrutalan metal yang mereka mainkan sehingga jadi kolaborasi yang alami.

Bagian bas Bonny Sidharta pun kini terdengar lebih jelas dibanding album debut mereka. Lirik Daniel Mardhany mencakup berbagai hal, dari penghormatan bagi para sahabat yang gugur (“Ode Kekekalan Pusara”) hingga kritik terhadap pihak yang gemar melakukan kekerasan atas nama moral dan agama (“Patriot Moral Prematur”).

Duo gitaris Stevie Item dan Coki Bollemeyer memang memiliki kemampuan lebih untuk memberikan sajian guitarworks yang klop dan lengkap dari sisi kebrutalan, teknik, sound yang tebal, serta mampu dan tak segan untuk melayani telinga dengan bagian-bagian melodius seperti pada “Altar Eksistensi Profan” yang kaya nada dan aura megah, sekilas seperti Spawn of Possession dan Fear Factory bergabung menjadi satu.

Hingga terasa seperti berada di tengah ngerinya tornado, tiba-tiba surut, pelangi keluar, namun hanya sebentar sebelum akhirnya gelap kembali dan melumat rumah Anda yang berada di jalurnya. Walau begitu Anda dipastikan pasrah dan tersenyum puas melihat kekuatan yang ditampilkan.
read more...

Album Review : Black Sabbath - '13'

Album Review : Black Sabbath - '13'
REVIEW ALBUM
Judul :13
Artis : Black Sabbath
Genre : Heavy Metal
Distributor : Universal Music
Tahun : 2013

PREVIEW ALBUM
Kembali dari kematian, para penemu salah satu aliran musik paling signifikan di dunia ini mencoba mencapai perdamaian antar anggota dan kembali bersatu untuk melempar 13 kepada para pecintanya.

Walau perdamaian tidak maksimal akibat absennya Bill Ward dari jejeran pemain, namun dari sisa yang ada mereka boleh bangga karena Rick Rubin, sang spesialis urusan ‘menangkap esensi karya-karya awal karier’ telah melakukan pekerjaannya dengan baik.

Trio Ozzy Osbourne, Tony Iommi, dan Geezer Butler direvitalisasi untuk kembali menjadi pedagang kegelapan dengan menghidupkan kembali kualitas klasik mereka. Alhasil, “End of the Beginning” segera mengingatkan pada dinginnya lagu “Black Sabbath”, “God is Dead” pun bermula lambat dan sludgy, berakhir energik serta bluesy, seakan buku pelajaran Sabbath Riffs 101 kembali dibuka dan dipelajari.

“Loner” memiliki groove yang membuat kepala mengangguk, persis seperti apa yang ditawarkan “N.I.B” di era ‘70-an. “Zeitgeist” adalah perjalanan akustik yang psikedelik a la “Planet Caravan”. Departemen drums diisi Brad Wilk dari Rage Against The Machine, yang bermain ‘aman’ tanpa terlalu banyak isian yang berlebihan. Seakan ia tahu posisi untuk masih menghormati keliaran tingkat tinggi dari Bill Ward.

Apakah dengan adanya Rick Rubin berarti album ini mampu menyaingi karya-karya klasik mereka? Tentu saja tidak. Tapi delapan lagu yang ada di 13 cukup menyenangkan dan adalah upaya inspiratif dari sekelompok senior cadas yang tak peduli umur, bangun dari peristirahatan, dan kembali menenteng kapak untuk mengayunkannya ke arah leher kita semua.

read more...

Album Review : Meir - Kvelertak

Album Review  Meir - Kvelertak
REVIEW ALBUM
Judul : Meir
Artis : Kvelertak
Genre : Black Metal
Distributor : Sony Music Scandinavia
Tahun : 2013


PREVIEW ALBUM
Kvelertak adalah salah satu contoh telak band yang musik bagusnya menggapai perhatian dunia dan menjadi sensasi Internet bahkan sebelum album pertama mereka dirilis.

Kini, album kedua ditunggu khalayak ramai. Dan karena band ini panas, mereka punya label besar yang merilis album kedua mereka ke segala penjuru dunia. Musikalitas Meir masih senada dengan apa yang dari awal ditawarkan oleh band asal Norwegia ini, penggabungan antara keliaran rock & roll, sinisnya black metal dan juga intensitas punk rock yang dihujani hook melodius.

Kvelertak membuktikan bila ingin menjadi duta rock Norwegia yang menyegarkan, mereka tinggal menggunakan nyanyian dalam bahasa ibu, kemudian mengambil inspirasi dari musik rock paling mainstreammereka yang didominasi Turbonegro, disetubuhi dengan rock paling underground Norwegia yakni Black Metal.

Hasilnya adalah nomor catchy menggebu seperti “Spring Fra Livet” yang tereksekusi baik, rock cepat nan intens seperti “Snilepisk”, serta hard rock siap pergelaran stadium (“Bruane Brenn”, “Kvelertak”) mampu membuat siapa pun sok mengerti bahasa Norwegia dan memaksa ikut bernyanyi.

Bukan band panas namanya kalau produsernya dan ilustrator sampulnya pun bukan orang-orang ‘panas’. Kvelertak cukup cerdas dengan melibatkan kembali Kurt Ballou (gitaris Converge) sebagai produser dan John Dyer Baizley (vokalis Baroness) sebagai ilustrator. Pilihan bagus untuk sebuah album bagus.
read more...

Album Review : Daur, Baur - Pandai Besi

Album Review  Daur, Baur - Pandai Besi
REVIEW ALBUM
Judul : Daur, Baur
Artis : Pandai Besi
Genre : Pop Rock
Distributor : Lokananta
Tahun : 2013


PREVIEW ALBUM

Berawal dari kebosanan membawakan lagu yang itu-itu saja, Efek Rumah Kaca mengajak beberapa musisi tambahan untuk membentuk Pandai Besi, yang memainkan lagu-lagu lama trio itu dengan aransemen baru.

Daur, Baur adalah koleksi lagu-lagu itu yang direkam secara live di Lokananta, studio legendaris di Solo, dengan mengundang penggemar untuk membantu mendanai prosesnya. Di atas kertas, ide ini pasti membuat kita bertanya “Untuk apa?”, terutama karena Efek Rumah Kaca terakhir mengeluarkan album di akhir 2008 dan album ketiganya belum kunjung selesai hingga saat ini.

Tapi sejak dulu Efek Rumah Kaca adalah band yang gemar membuat kita bertanya-tanya – dan seperti biasa, jawabannya ada di musik mereka. Daur, Baur lebih dari sekadar Efek Rumah Kaca mengajak gitaris, keyboardist, pemain trumpet dan dua vokalis latar perempuan sebagai pelengkap. Lirik dan judul lagu masih sama, tapi Pandai Besi merombak aransemennya sehingga hanya mirip sekilas dengan versi aslinya, seperti “Laki-Laki Pemalu” yang aransemen barunya mengingatkan pada Local Natives.

Durasi mayoritas versi baru ini melebihi 5 menit, tapi aransemennya tak pernah membosankan, dan akustik ruangan Lokananta serta suasana rekaman live memberi energi dan kehangatan yang mungkin takkan didapatkan jika Daur, Baur direkam secara konvensional. Salah satu hal menarik dari album ini adalah bagaimana perubahan aransemen dapat memberi makna yang berbeda pada sebuah lagu, walau liriknya tetap sama.

Semangat berapi-api pada versi asli “Di Udara” disulap menjadi lebih pelan tapi tak kalah menggigit, bagai pejuang bijak yang menyadari masih ada banyak jalan untuk membuat perubahan selain berorasi di jalanan. Sementara itu, intensitas vokal dan musik yang terus meningkat pada refrain “Desember” yang diulang-ulang membuat lagu tenteram tentang kesetiaan terdengar lebih seperti pengakuan dari kekasih yang posesif dan terobsesi.

Andaikan Pandai Besi adalah band baru dan ini adalah materi lagu baru, maka Daur, Baur akan menjadi album debut Indonesia terbaik sejak album pertama Efek Rumah Kaca. Tapi pada kenyataannya, album ini adalah kreatif bagi Efek Rumah Kaca untuk mengatasi kejenuhan, dan membuat semakin penasaran akan karya selanjutnya – dengan atau tanpa embel-embel Pandai Besi.
read more...

Album Review : Infestissumam - Ghost BC

Album Review  Infestissumam - Ghost BC
REVIEW ALBUM
Judul : Infestissumam
Artis : Ghost BC
Genre : Rock
Distributor : Universal Distribution
Tahun : 2013


PREVIEW ALBUM
Cukup banyak pro-kontra di dunia metal yang menghias album kedua dari Ghost BC, band occult rock asal Linkoping, Swedia.

Rata-rata berkisar pada wacana lagu mereka yang kini semakin ‘menjual’, serta produksi rekaman yang kini mewah setelah berada di major label, membuat integritas metal mereka dipertanyakan.

Namun ini adalah reaksi klasik. Bahkan seklasik sound rock yang mereka usung. Di telinga kami, Ghost BC kini telah matang dengan materi lanjutan yang layak mendapat apresiasi lebih dari khalayak yang lebih luas.

Menyanyikan lirik satanis yang terpengaruh Blue Oyster Cult atau Mercyful Fate, kini dipoles hingga mengandung elemen baru macam kemewahan koor pada lagu pembuka “Infestissumam”, serta sound yang lebih banyak berorientasi pada organ dibanding gitar yang kini terdengar mundur selangkah.

“Secular Haze” terdengar seperti lagu sirkus yang menyeramkan dengan komposisi nan imajinatif. Satu hal yang menarik adalah tembang seperti “Jigolo Har Megiddo” memiliki DNA band klasik rock a la Boston. Ghost BC kini telah bertransformasi menjadi megah, dan magnetik bahkan pada pendengar pop.

Terlebih ketika rekaman ini ditutup oleh “Monstrance Clock” yang merupakan nomor terbaik di album ini. Lirik yang merupakan ajakan jahat tapi memiliki salah satu refrain paling catchy di dunia rock saat ini. Solo gitar manis namun penuh emosi, not meluncur berbunyikan Hammond, dan ditutup oleh koor megah yang menghantui namun melekat di kepala.

Bukan tak mungkin bila dalam waktu dekat kaum sayap kanan religius di dunia barat akan memiliki musuh baru. Marilyn Manson, Anda kami persilakan untuk minggir.
read more...

Album Review : SARI (Saburai Malam Hari) - Teh Manis Lampung

Lorong Musik dot Com
REVIEW ALBUM
Judul : SARI (Saburai Malam Hari)
Genre : Reggae
Distributor : Teh Manis Lampung
Tahun : 2013


PREVIEW ALBUM
Setelah cukup lama akhirnya band yang berdiri sejak Tahun 2006 ini merilis Album pertama mereka yang bertajuk "SARI (Saburai Malam Hari)" tepatnya pada 13 April 2013. Judul album mereka diambil dari nama tempat nongkrong favorit warga Lampung 'Saburai' yang berada ditengah Kota Bandar Lampung.

Judul album 'SARI (Saburai Malam Hari)' yang juga menjadi salah judul lagu yang terdapat dalam album ini, suasana Saburai pada malam hari 
dapat tergambar jelas dalam lirik tersebut "Malam di Kota Lampung tak kalah indah malam di kotamu".

Dalam album ini Teh Manis Lampung juga mengangkat tema alam melalui lagu yang berjudul 'Sabda Alam', lagu ini mengajak kita untuk melawan para pembalak hutan yang kian marak terjadi, dalam Album perdana ini juga mereka mengangkat tema lokal dengan memperkenalkan alat musik tradisional khas Lampung "Cetik" keseluruh nusantara.

'HAW (Hemp Action Way)' dibuka dengan suara drum dan disambut dengan suara khas vocalis Teh Manis Lampung yang menyerukan "oh haw haw haw haw".


Dalam lagu yang berjudul "Untai Nam" terdengar suara siulan yang diteruskan dengan suara adukan Teh Manis dan korek  api yang membakar sebatang rokok. Dapat kita rasakan suasana santai tanpa beban "kegagalan bukan berarti kalah dalam perjuangan, santai saja yakin harapan tiba".

Angkat tinggi tanganmu ke udara, mari berpesta dimalam yang penuh warna, merah kuning hijau satukan cinta "Reggae Night".


"Angin kencang langit gelap bertanda akan datangnya hujan" potongan lirik dari lagu yang berjudul 'Berndendang Di Kala Hujan', lagu ini telah dirilis pada Tahun 2012 dan mendapat sambutan luar biasa dari penikmat musik reggae di Lampung bahkan sampai Luar Lampung, lagu ini juga selalu dinanti oleh penggemar musik reggae dalam setiap penampilan Teh Manis Lampung diatas panggung.

Di Album yang bermaterikan "Lagu Sombong feat Febyka (MrnMrs), Berdendang dikala hujan, SARI(Saburai Malam Hari), Sabda Alam, Untai Nam, HAW (Hemp Action Way), Reggae Night" semua penggarapan dan recording Album ini di Studio 1865.
read more...

Album Review : Detourn -The S.I.G.I.T.

Lorong Musik dot Com
REVIEW ALBUM
Judul : Detourn
Produksi : Rock
Distributor : FFWD Record
Tahun : 2013

PREVIEW ALBUM
Album penuh kedua The S.I.G.I.T. yang bertitel "Detourn" telah dirilis, Album penuh pertama "Visible Idea of Perfection" rilisan tahun 2006.

Dimulai dengan kemegahan suara organ pipa yang terdengar. Ada rasa pemberitahuan dari bebunyian tersebut, jika sangkakala ditiup untuk memberitahukan kabar buruk, organ pipa pada lagu pembuka “Detourn” ditekan untuk menandakan dimulainya kabar baik berupa cipta terbaru vokalis sekaligus gitaris Rektivianto Yoewono, gitaris Farri Icksan Wibisana, bassist Aditya Bagja Mulyana, dan drummer Donar Armando Ekana yang dinanti penggemar mereka sejak lama.

Penggunaan alat tiup adalah salah satu aspek yang membuat Detourn berbeda dengan Visible Idea of Perfection, dan ini langsung ditunjukkan pada lagu pertama. “Detourn” bermula garang seperti lagu khas The S.I.G.I.T. namun berubah tiba-tiba dengan progresi yang bertumpu pada tiupan saksofon seksi Azis dari Time Bomb Blues.

Itu hanyalah satu dari sekian banyak manuver terorkestrasi dengan ketelitian tingkat super yang ada pada Detourn.

“Gate of 15th” menyuguhkan perubahan wujud lagu saat setengah jalan lewat perpaduan gitar akustik dan bunyi flute yang mampu mengembarakan imajinasi ke hutan rindang yang berasal dari dunia mitologi.

Sementara itu, “Black Summer” menggabungkan dua aransemen yang berbeda—satu layak diserukan massal dengan kepalan tangan di udara dan satu lagi cenderung kontemplatif—dalam satu lagu tanpa terdengar dipaksakan.

Lalu “Red Summer” dibuka dan ditutup dengan field recording sebuah chant suatu suku yang dipadukan dengan ketukan drum penuh tenaga.

Belum lagi “Tired Eyes” yang dance-y dan diawali dengan vokal Rekti yang dimainkan terbalik.

“Cognition” yang berpotensi menjadi anthem saat konser.

“Conundrum” selaku lagu penutup sekaligus terpanjang, enam setengah menit, pada Detourn.

Segala bentuk eksperimen pada album ini membuktikan bahwa The S.I.G.I.T. tahu betul bagaimana cara membayar lunas penantian sepanjang nyaris tujuh tahun.
read more...

Album Review : Grey - Pure Saturday

REVIEW ALBUM
Judul : Grey
Produksi : Rock
Distributor : Labyrinth Records
Tahun : 2012

PREVIEW ALBUM
Terakhir kali Pure Saturday bersua melalui karya rekaman adalah di tahun 2007 lewat Time For A Change, Time To Move On, sebuah koleksi lagu yang didominasi materi lama yang direkam ulang. Bisa dibilang perubahan yang disebutkan dalam judul itu sesungguhnya terjadi lewat Grey, album keempat yang sepenuhnya berisi lagu baru oleh grup asal Bandung ini. Begitu kuping pendengar dihantam oleh gitar, bas dan drum pada “The Horsemen”, akan langsung terasa bahwa album yang dirilis di bawah bendera Labyrinth Records dan Demajors ini cukup berbeda dengan yang sudah-sudah. “Secara konsep, album ini sangat art rock,” kata bassis Ade Purnama. “Dari awal memang niat ingin membuat concept album. Tadinya ada ide ingin albumnya 75% progressive rock, cuma setelah dipikir-pikir itu bukan ide yang baik.”

Jadi pengaruh progressive rock memang kuat di Grey, walau tak sampai ada instrumental gitar hingga 15 menit atau kostum jubah ala Rick Wakeman. Tema lirik yang diusung pun tak ada hubungannya dengan kisah fantasi epik atau klise-klise prog rock lainnya, namun tentang kehidupan manusia dalam satu hari, dengan segala gejolak yang dapat terjadi dalam durasi singkat itu, di mana kata grey atau abu-abu mewakili keadaan ketidakpastian yang acapkali ditemukan. Omong-omong soal kehidupan, itulah yang membuat proses album ini cukup lama, mulai dari pengumpulan materi lagu hingga rekaman pada pertengahan 2011 di Massive Studio, Bandung. “Sekarang waktunya terbatasi oleh keluarga dan lain-lain, jadi porsi kreatifnya agak susah,” kata drummer Yudhistira “Udhi” Ardinugraha. “Tapi malah itu tantangannya. Sejauh ini masih bisa kami taklukkan.”

Maka terciptalah sebuah album yang berbeda dari album-album sebelumnya. “Pada dasarnya ini album yang paling bebas dari album-album sebelumnya, karena kami sudah tidak terlalu kompromi lagi dengan yang pernah kami buat,” kata gitaris Adhitya “Adhi” Ardinugraha. “Kami tak mau mengulang yang sudah pernah kami bikin, walaupun secara benang merah mungkin masih terasa ada.”

Memang, kita masih bisa mendengar unsur-unsur khas Pure Saturday seperti pada “Musim Berakhir” atau “To The Edge”, tapi dalam kemasan yang lebih berani dan variatif. Kita juga dapat mendengar kepercayaan diri lebih tinggi dalam vokal Satria “Iyo” Nurbambang, yang terasa lebih nyaman dibanding pada Elora, album debutnya sebagai vokalis Pure Saturday pada 2005 lalu. “Di sini saya mencoba lebih membebaskan diri, melepaskan dari pakem-pakem Pure Saturday yang sebelumnya sudah terbentuk,” kata Iyo, yang tampil mengesankan saat menyanyikan “Albatross” yang epik dan penuh dinamika. Menurut Udhi, “Iyo mulai total di album ini, kami membebaskan apa yang ada di kepala dia, dia sudah mulai cari nada dan lirik sendiri. So much progress.”

Pada album Grey, Pure Saturday turut didukung oleh beberapa tamu istimewa. Single pertama “Lighthouse” menampilkan permainan piano oleh Hendi “Unyil” Priyatna dari grup The Milo, sementara Rektvianto Yoewono dari The SIGIT menyumbangkan vokal secara spontan pada “Utopian Dreams”, sebuah lagu akustik kalem yang tiba-tiba tercipta saat berada di studio rekaman. Tapi bisa dibilang tamu kehormatan utama di album ini adalah Yockie Suryoprayogo, musisi legendaris yang pertama kali berkolaborasi dengan Pure Saturday pada tahun 2011 dalam Djakarta Artmosphere, acara musik tahunan yang menampilkan kolaborasi antar musisi lintas generasi. “Sewaktu dikasih pilihan untuk kolaborasi di Djakarta Artmosphere, serentak semua menjawab Yockie Suryoprayogo,” kata gitaris Arief Hamdani. “Agak sulit mencari seniman seperti beliau, yang kami pikir bisa memahami keinginan bermusik PS. Kebetulan pada waktu bersamaan kami sedang rekaman, dan ada beberapa lagu yang kami pikir bisa untuk diisi keyboard.” Yockie Suryoprayogo pun memberi sentuhan emasnya pada “The Horsemen” dan “Albatross”, dan menurut Arief, “Lagu terasa lebih lengkap seperti bayangan kami sebelumnya, dan nuansa lagu yang kami mau lebih dari sekadar tercapai. Klimaks!”

Singkat kata, Grey merupakan babak terbaru dalam perjalanan Pure Saturday, yang mungkin akan terasa membingungkan bagi sebagian pendengar yang telah mengikuti sejak album pertama dirilis di tahun 1995, tapi itu tidak mengkhawatirkan Pure Saturday sendiri. “Kalau mengharapkan album yang sama dari sebelumnya, salah dong mereka suka Pure Saturday,” kata Udhi sambil tertawa. Adhi menambahkan, “Kalau kami masih dikasih kesempatan untuk berkarya, kami akan terus berproses. Kami pasti mencoba berkarya dalam konteks yang kami mau pada saat itu. Jadi tidak ada patokan.”

Bersiaplah untuk sebuah perubahan. Bersiaplah untuk Grey.


Tracklist :
1. Intro – Centennial Waltzes
2. The Horsemen
3. Lighthouse
4. Musim Berakhir
5. Starlight
6. Utopian Dreams
7. The Air, The Empty Sky (instrumental)
8. Passepartout
9. To The Edge
10. Albatross
- i. Candlelit & Moonshine
- ii. Embrace
11. – iii. Dream A New Dream
read more...

Album Review : Detourn - The S.I.G.I.T.

Lorong Musik dot Com
REVIEW ALBUM
Judul : Detourn
Artis : The S.I.G.I.T.
Produksi : Rock
Distributor : FFWD Records
Tahun : 2013

PREVIEW ALBUM
The SIGIT kembali dengan album baru, judulnya Detourn. Tidak perlu repot-repot mencari arti kata itu. Nikmati saja musiknya.

Termin si anak hilang yang kembali ke rumah mungkin merupakan analogi yang paling cocok untuk menggambarkan pulangnya empat laki-laki anggota The SIGIT ini ke arena. Ini album baru, sesuatu yang telah terlalu lama dinantikan.

Empat orang sosok berkarakter kuat di band ini: Rektivianto Yoewono, Farri Icksan Wibisana, Acil Armando dan Aditya Bagja Mulyana, telah terlalu lama mengembara sesuka hati. Mereka melukis banyak sekali potongan gambar sekaligus mencoba berbagai macam variasi hidup selama beberapa tahun terakhir ini; meruntuhkan pola-pola lama menjadi band rock di atas panggung dengan berdandan sesuka hati, meletakkan posisi main seenak jidat dan bahkan tetap membuat orang terkesima dengan lagu-lagu lama mereka yang sudah terlalu lama dimainkan secara berulang.

Katalog cerita mereka bertambah seiringnya proses alami dari segi usia. Daftar panjang kota-kota yang disinggahi semakin mengular, beberapa bahkan layak mendapat sematan reguler lantaran sudah terlalu sering disambangi. Berbagai macam ekspresi emosi pernah terekam.

Setelah lelah berjalan melukis kanvas cerita mereka, mereka seolah disadarkan bahwa akan kewajiban yang begitu kasat mata untuk mnyelesaikan proyek berikutnya. Jika itu perlu waktu nyaris tujuh tahun, biarlah. Toh, apa yang ada di depan mata sekarang ini sudah nyata; bukan lagi janji-janji omong kosong tentang ide-ide yang bisa dimuntahkan tapi tidak pernah bisa ditagih perwujudannya lewat komitmen waktu.

Lebih besar lagi, ada banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Seluruh penjurunya sudah berteriak untuk dijamah dan diperhatikan.

Detourn adalah sebuah bekal kuat yang dikandung sekian lama dan sekarang telah disalinkan dengan selamat ke muka bumi. Tentunya, ia dibuat dengan segudang usaha keras, tambahan asupan amunisi yang diperoleh dari titik-titik kecil yang ditemui di perjalanan dan substansi yang dikontribusikan alam raya dalam bentuk garis tangan yang berliku; ada macam-macam cerita yang mengiringi proses pembuatan album ini.

Ia berhasil menjelma menjadi paket komplit yang diperlukan oleh sebuah album rock untuk bisa dikategorikan bagus. Ia juga masuk dengan baik ke logika berpikir standar tentang bagaimana sebuah kumpulan musik bagus yang layak dikenang dan disebarluaskan.

Prosesnya, seperti kita rasakan bersama ketika menunggu sekian lama, tidak pernah sederhana. Itu kenapa rentang waktu yang diperlukan untuk kembali dengan hasil jadi ini begitu lama. Visible Idea of Perfection, debut fenomenal The SIGIT, menjadi momok aktif yang harus ditaklukan di ranah ego masing-masing orang.

Dan The SIGIT, adalah sebuah konstruksi kokoh tentang konsepsi dan penerjemahan audio visual yang diramu dengan takaran ideal. Mereka sangat tahu apa yang mereka lakukan.

“Kami mencoba menelaah sendiri pola baru dalam band dan mencoba menuangkannya dalam bentuk lagu baru. Dalam proses itu pun kami sering dihadapkan dengan ketidakpuasan. Singkatnya, kami ingin membuat lagu yang berbeda dengan era Visible Idea of Perfection, tapi secatchy album itu. Ternyata sangat sulit,” ujar Rektivianto, bercerita sedikit tentang tantangan yang membuat mereka perlu waktu lama untuk menyelesaikan album kedua.

Proses itu membuat mereka berhasil menyajikan sebuah menu santapan utama yang tidak seragam, seperti biasanya. Ada rock penuh nada kemarahan, balada pinggir gang atau komposisi cinta absurd. Metode ini, sekedar catatan, selalu ada di setiap karya mereka. Ada elemen keseimbangan ala yin dan yang yang disebar dalam sebelas lagu di album berdurasi kurang lebih empat puluh lima menit ini.

“Kami tidak tahu bagaimana mengungkapkannya tapi album ini beda. Mungkin tidak akan kentara, namun di suatu titik di sebuah lagu, anda akan merasakan perbedaan itu. Yang pasti, kami tidak akan pernah merilis materi-materi ini kalau kami sendiri tidak merasa album ini sebagus Visible Idea of Perfection,” janji Rektivianto tentang Detourn.

Single pertama album ini, sebuah lagu anthem yang bisa diteriakan bersama-sama, Let the Right One In menjadi pembukti perdana bagaimana kolektif kata di atas terwujud dalam gugusan nada. Lagu ini seolah jadi lagu yang cocok untuk jadi salah satu track di Visible Idea of Perfection, tapi kalau didengar berulang sebenarnya tidak cocok. Komposisinya berjalan jauh lebih dalam ke ruangan matang yang hanya mungkin bisa dibangun lewat serangkaian proses panjang yang memakan waktu nyaris tujuh tahun tadi. Seperti itulah Detourn mengalun.

Jadi, ketika kembali lagi ke tengah-tengah industri musik dengan sebuah karya baru, seluruh isi arena harus menyambutnya dengan tangan terbuka. Usapan-usapan hangat niscaya memberi energi untuk meneruskan hegemoni mereka di sirkuitnya.

Mereka, yang kita kenal dengan nama The SIGIT, masih laki-laki yang sama. Yang membuatnya sedikit beda, perlakuan alam raya membentuk mereka menjadi sekumpulan sosok yang lebih menyenangkan. Dewasa itu pilihan, tapi pulang ke arena tempat mereka seharusnya berada sudahlah cukup membuktikan bahwa memang mereka seharusnya memainkan musik sekencang dan sesering mungkin.

Track list:
01. Detourn
02. Let the Right One In
03. Son of Sam
04. Gate of 15th
05. Tired Eyes
06. Owl & Wolf
07. Black Summer
08. Red Summer
09. Ring of Fire
10. Cognition
11. Conundrum


[Sumber. Majalahcobra.com]
read more...

Album Review : The Triangle Album - The Triangle

REVIEW ALBUM
Judul : The Triangle Album
Artis : The Triangle
Produksi : Rock
Distributor : The Triangle
Tahun : 2012

PREVIEW ALBUM
Ilustrasi cover album yang begitu menarik ini. Lapisan-lapisan segitiga yang ada di tengah covernya semakin mengecil, membuat kita penasaran untuk merasakan, mendengar, membuka, dan menguliti satu persatu elemen emosi dari lagu-lagu yang terekam di album ini.

Push tight, down low. Take flight, here we go. Great Below menjadi lagu pembuka yang megah, dan berhasil membuat kita ingin mendengarkan lagu-lagu mereka selanjutnya.

So Here We Go

Setelah proses pembuatan album kurang lebih selama setahun, The Triangle rilis pada bulan November tahun 2012, yang merupakan debut album pertama dari band ini. Album The Triangle memuat sepuluh lagu yang menonjolkan unsur indie rock, dari lagu pembuka, hingga beberapa diantaranya yaitu Moving On yang melankolis, One Sided Affair dengan sentuhan vokal Risa Saraswati, satu-satunya lagu berbahasa Indonesia, Tentang Kita (terinspirasi dari lagu Dewi Lestari, Malaikat Juga Tahu) atau How Could You dengan ciri khas musik The Triangle yang maskulin, yang menjadi single perdana mereka di album ini. Setiap lagu bagi mereka tampaknya adalah petualangan, maka kita akan menemukan kejutan-kejutan menarik baik dari lirik maupun aransemennya.

Berawal dari sesi open mic di Beat ‘n Bite, The Triangle terbentuk pada tahun 2010, yang merupakan kelanjutan dari ide Riko Prayitno (bass), Fikri Hadiansyah (gitar), dan Cil Hardianto Satriawan (gitar dan vokal) untuk membuat sebuah projek musik akustik. Pada perjalanannya, konsep ini berkembang seiring dengan kebutuhan dan latar belakang musik yang berbeda, juga keinginan para masing-masing personel yang ingin memperlihatkan sisi lain dari mereka pribadi. Satu pertanyaan saya kala itu ketika mengetahui The Triangle beranggotakan Riko adalah, apakah saya akan mendengarkan lagu-lagu dengan nuansa retro tahun 70an ala Mocca? Ternyata tidak. Mungkin inilah alasan mengapa Cil (yang juga personil Hastag), Harry “Koi” (yang juga personil The Ansaphone), dan Fikri (yang juga personel Vincent Vega) hadir, untuk menguatkan konsep bermusik The Triangle yang sukses membawa saya nostalgia ke era musik 90an.

Fly Away, I’m Okay. Fly away, I’ll Be Okay Probably.

Menarik sekali mendengarkan album ini. Mengingat bahwa The Triangle lahir di Bandung, jika mendengar lagu-lagunya, ada suasana kota kelahiran yang terekam di dalamnya, dari kehangatan orang-orangnya, momen seseorang yang ingin meninggalkan comfort zone, sesuatu yang artsy, sentuhan dark, gloomy, kebahagiaan, atau bahkan emosi dari cuaca kota yang tidak menentu, dari hujan besar hingga siang panas, dan mudahnya orang-orang di kota ini untuk terbawa suasana. Mungkin itulah yang The Triangle ingin ungkapkan dalam album ini. Momen nostalgia. Dan jika kamu membutuhkan sesuatu yang organik, tapi tidak terlalu akustik, maka mereka dapat menjadi penghiburan bagi orang-orang yang terlalu sering mendengarkan lagu-lagu akustik folk mendayu-dayu atau musik elektronik era masa kini.
read more...

Album Review : TARING - SERINGAI

REVIEW ALBUM
Judul : Taring
Artis : Seringai
Produksi : High Octane Production
Distributor : Demajors
Tahun : 2012

PREVIEW ALBUM
Seringai yang menyebut jati dirinya sebagai band High Octane Rock asal Jakarta, kembali hadir mencengkeram mangsanya. Kali ini mengandalkan ketajaman album terbaru merka bertajuk "Taring". Setelah beberapa minggu sebelumnya single "Tragedi" diperdengarkan dengan versi unduh gratisnya, bulan Juli 2012 ini album penuh tersebut pun hadir di tengah pendengar skena musik rock beroktan tinggi.

Sangat mengejutkan ketika single "Tragedi" telah diunduh 23 ribu kali hanya dalam waktu dua jam! Promosi yang apik melalui jejaring informasi Twitter dan fanbase Facebook berhasil membuktikan bahwa cara tersebut sangatlah ampuh untuk menjaring massa. Album Taring sendiri dikeluarkan dalam dua versi yaitu versi Deluxe dan versi reguler. Versi Deluxe berisi paket CD, poster, dan stiker artwork album "Taring" yang hanya diproduksi terbatas, 999 buah.

#1 Canis Dirus
Setelah saya googling, Canis Dirus adalah nama Latin dari jenis binatang"serigala yang mengerikan". Kita seolah ditegaskan bahwa Seringai sejak awal memang sangat identik dengan Serigala. Di album sebelumnya, Seringai populer dengan single hitsnya "Serigala Militia". Begitu juga dengan album ini, Taring bisa dikaitkan dengan sesosok serigala yang memiliki taring yang ganas.

Canis Dirus adalah intro album ini, suara gitar string dipadu dengan bass dengan tempo pelan menjadi sajian awal"Taring". Mendengar lagu singkat ini bagaikan mendengar lagu kebangsaan para serigala bangkit dari tidurnya, yang diputar di tengah-tengah hutan. Durasinya tidak lebih dari dua menit.

#2 Dilarang di Bandung
Diawali dengan beat snare dan bass drum yang menghentak, berhasil membawa lagu ini ke arah yang lebih ceria setelah mendengar intro Canis Dirus. Menurut catatan Arian13 (vox), lagu ini didedikasikan untuk sebuah peristiwa pergelaran musik rock di Bandung. Dimana ketika itu ada beberapa penonton yang tewas, kemudian polisi setempat menyalahkan band-band pengisi untuk tidak dibolehkan manggung lagi.

Bagian reff yang berbunyi sesuai judul lagunya "Dilarang di Bandung" seakan memberikan penekanan bahwa begitu tidak masuk akalnya aturan yang dibuat, yaitu dengan melarang konser-konser rock di Bandung.

#3 Taring
Ini adalah salah satu lagu yang paling saya suka di album ini. Permainan kata yang begitu tajam membuat saya selalu terngiang-ngiang bagian reff lagu Taring. Bisa dikata lagu ini adalah lagu penyemangat di album ini. Perhatikan line di bagian reff "mengasah tajam / hajar masa depan / meraih mimpi / kehidupan terang" yang menyuguhkan denotasi dari makna Taring itu sendiri. Taring adalah sesuatu yang tajam, dan Seringai selalu mengajarkan kepada pendengarnya untuk 'bertaring'. Di awal lagu Anda akan mendengar "TARING TARING TARING KU!!!". Lagu rock anthemic yang pantas dinyanyikan dalam pit!

#4 Fett, Sang Pemburu
Lagu ini adalah lagu bertema cerita fiksi ilmiah, dengan mengambil karakter Boba Fett. Boba Fett adalah karakter antagonis dalam film Star Wars, film kegemaran para personel Seringai. Unik memang membaca lirik lagu ini, seperti menceritakan biografi Boba Fett yang berani mati dan seorang pejuang alami.

#5 Tragedi
Single utama album ini, dengan mengangkat tema yang unik. Pernyataan "post hoc ergo propter hoc", merupakan bahasa Latin dari "after this, therefore because of this", adalah topik yang diangkat dalam lagu ini. Tragedi mengajarkan kepada kita bahwa masih ada saja pemikiran yang keliru. Dalam hal sebab akibat yang tidak saling berhubungan. Arian13 menulis panjang lebar sejarah penciptaan lirik ini dalam sampul albumnya. Rasa emosi terhadap kebebalan manusia dituangkan habis-habisan di sini.

Suara bass di album ini sangat menonjol. Di tengah-tengah lagu ada part yang berisi gitar akustik, membuat lagu ini lebih catchy. Lagu ini memang pantas dijadikan lagu sing along di panggung Seringai. Akan sangat hingar bingar jika para Serigala Militia bersama-sama menyanyikan bagian ini "azab menghantuimu / bebal mengaburkanmu / tabur garam kepada luka / membuat duka menjadi murka".

#6 Serenada Membekukan Api
Saya kira lagu ini akan bercerita tentang pemadam kebakaran, tapi ternyata salah! Esensi lagu ini adalah kritik Seringai terhadap rencana pemerintah untuk memblokir konten-konten pornografi yang dinilainya tidak edukatif. Edy Khemod menambahkan semakin kita tabukan, semakin kita akan penasaran, semakin mudah kita terjerumus. Pekerjaan yang sia-sia seperti yang diumpamakan pada bagian reff "menabukan malam, membekukan api, sia-sia".

#7 Discotheque
Discotheque pada dasarnya adalah lagu milik Duo Kribo (Ahmad Albar & Ucok AKA). Seringai mengcover lagu ini dengan sentuhan classic rock. Bagi Edy Khemod, lagu ini adalah lagu underrated yang mempunyai lirik berani di jamannya.

#8 Program Party Seringai
Track ini diawali dengan suara seorang anouncer wanita yang mengakhiri pengumumannya dengan teriakan thrash "Seringaiiiii". Judul lagu ini dipilih Arian13 karena terinspirasi dari judul lagu Refused (punk rock Swedia) "The Refused Party Program". Lagu ini adalah penggambaran Seringai sebagai band yang gemar berpesta dan bersenang-senang. Tidak harus serius melulu. Bagaimana, setuju?

#9 Lagu Lama
Cara bernyanyi Arian13 benar-benar beringas secepat kilat, kecuali di bagian reff yang masih bisa didengar artikulasinya. Suara distrosi gitar dan bass yang saling mengawini menjadi mudah ditebak bahwa inilah benang merah musik Seringai.

"Persetan dengan mereka!" begitulah kalimat terakhir yang dilontarkan di akhir lagu ini. Lagu ini berisi kesuntukan Seringai yang bingung memilih topik, karena isu-isu negeri ini yang mereka kritisi masih sama hingga sekarang. Tidak ada perubahan dan cenderung stagnan. Pesan yang disampaikan ada di bagian "berdiri sendiri / menjadi mandiri / tetap menyikapi / kritis dan awasi".

#10 Lissoi
You got it, Seringai! Begitu reaksi saya ketika mendengar lagu Batak ini dinyanyikan mereka. Lagu yang hanya diiringi gitar akustik ini sangat mengakrabkan. Semua personel Seringai bersorak sorai lepas menyanyikan bersama "Lissoi". Ini adalah lagu tongkrongan yang unik. Mengapa lagu ini dipilih? Alasan Arian13 (vox), Edy (drummer), dan Sammy (bassist), sama semua, mereka iri dengan Ricky (lead guitar) yang mempunyai lagu ini. Bukan karena Ricky yang berasal dari Batak. Hahaha!

#11 Infiltrasi
Jujur sebelum membuka kamus, saya agak ragu dengan maksud kata "Infiltrasi". Penyusupan adalah makna lain dari infiltrasi. Lagu yang memang didedikasikan kepada mereka yang berani melakukan perubahan untuk memajukan skenanya dari dalam. Begitulah kata Ricky atas sambutan untuk lagu ini. Aroma hardcore punk terasai di lagu ini.

#12 Gaza
Gaza adalah lagu instrumental (tanpa vokal) yang memiliki durasi terlama di album ini, enam menit lebih enam detik. Lagu paling ambisius yang menggunakan double drums, tiga gitar elektrik, dua gitar akustik, moog, synth, vokal. Drum yang digunakan di lagu ini adalah drum milik alm. Ary Roxx. Alunan suara berbagai genre bersatu dalam "Gaza", dari classic rock 70's hingga ke post rock. Tema konflik Gaza di Timur Tengah yang tak kunjung berakhir menjadi alasan pemilihan judul lagu ini.

Secara keseluruhan, saya sangat suka konsep artwork dari album ini. Kemasan yang nampak tidak dibuat asal-asalan, juga repertoar di balik penggarapan tiap lagunya membuat pembacanya mudah menangkap apa yang hendak disampaikan. Namun, tetap saja identitas Seringai tetap tercirikan dengan baik. Salah satu ciri tersebut adalah diksi yang digunakan Seringai dalam penulisan lirik. Semenjak album pertama hingga sekarang masih konsisten memasukkan kata-kata ajaib ke dalam lirik lagu, tak jarang sulit diketahui maknanya. Justru ini yang unik. Banyak kosakata Bahasa Indonesia yang seharusnya bisa kita manfaatkan untuk membangun permainan lirik yang asyik. Musik-musik Motorhead, Black Sabbath, dan Slayer masih jadi bahan pemujaan Seringai. Juga nuansa baru yang terinspirasi dari karya-karya Turbonegro hingga Deep Purple.

read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Berita Menggemparkan All Rights Reserved.