Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Biography Dialog Dini Hari

Berita Musik Terbaru
Biografi Band - Dialog Dini Hari terbentuk pada akhir kuartal pertama di tahun 2008, yaitu para motor penggerak dua band besar asal Bali, Dadang SH Pranoto dari Navicula dan Ian Joshua Stevenson serta Mark Liepmann dari Kaimsasikun, duduk bersama. Menyepakati diri mengalirkan dialog bebas lepas tengah malam dan merangkumnya ke dalam musik dan notasi sederhana. Sembari sejenak menanggalkan emblem yang telah menahun melekat pada eksistensi Navicula yang sering dijuluki “neo-green-phsycedelic-grunge-core” dan Kaimsasikun dengan stempel “deep-psycho-brit-rock”-nya.

Leburan demi leburan blues, folk dan ballad ditakar oleh Dialog Dini Hari sedemikian tepat sebagai degup melodi penghantar pesan ringan-cerdas-indah dalam warna vokal bariton yang merdu menyeruak dari dalam luka yang membekas. Sedangkan dominasi suara gitar aksutik dan semi-steel-dobro yang khas, plus selingan gesekan steel-slide yang kasar dan ekspresif berhasil membangun dinamika nuansa live yang sangat terjaga.

Ke empat belas nomor pada album bertajuk "Beranda Taman Hati" Renovasi Otak, Beranda Taman Hati, Bumiku Buruk Rupa, Sahabatku Jadi Hantu, Hati-Hati, dll. sebagian besar ditulis Dadang SH Pranoto selaku voka/gitaris dan ditata Ian Joshua Stevenson (bass). Sedangkan sektor beat apik diracik oleh Mark Liepmann. Keseluruhan karya Dialog Dini Hari yang mencitrakan kepekaan pada relita sosial dan fenomena alam ini juga mendapat seabreg sokongan dari sederet musisi kondang pulau dewata macam Ed Eddy Rsdvs (piano & organ), Windu Supersoda (pianika), Deny Surya Rokavatar (drum) pada lagu Oksigen dan penyanyi wanita bersuara emas Sari Nymphea. Tak ketinggalan pula, sentuhan nada dari Rio Sidik Saharadja.

Selain keterlibatan para musisi dalam pembuatan Album Dialog Dini Hari, kaum sineas muda Bali juga saling membahu menggarap tampilan videoklipnya. Yuda (Otak Seger Visual Communication) memilih single Pagi dengan merekam gambar gambar indah-asri berlatar gunung dan danau Kintamani.

Sedangkan Ridwan Rudianto (Di Ujung Ufuk) menggambarkan lagu Renovasi Otak dengan gaya simbolis-minimalis berpesan padat.

Di tangan Igo (produser muda kontroversial yang pernah ‘mengantar’ Ed Eddy & Residivis hingga terganjar 6 bulan penjara dengan masa percobaan setahun akibat lagu berjudul Anjing yang dianggap menghina institusi polisi) trio yang kini berformasikan Dadang SH Pranoto (vokal & gitar), Michael Brozio Orah (mantan The Hydrant) pada bass, dan Putu Deny Surya Wibawa (Rokavatar) di departemen drum; ini diproyeksikan untuk dapat terbit membawa pencerahan segar bagi insan penikmat musik dengan ajakan sederhana: Berdialog merenovasi otak dan fisik.


Personel Dialog Dini Hari:
  • Dadang S.H. Pranoto (vocal, gitar)
  • Brozio Orah (bass, vokal latar)
  • Putu Deny Surya Wibawa (drum, perkusi)
read more...

Navicula Segera Merilis Album Ganda Bertajuk 'Love Bomb'

Navicula Segera Merilis Album Ganda Bertajuk 'Love Bomb'
Setelah band grunge Bali, Navicula, merilis CD promosi album terbaru mereka, kini dikabarkan telah bersiap untuk meluncurkan album ganda bertajuk Love Bomb yang rencananya akan diluncurkan pada minggu kedua Mei ini pula.

Sementara itu materi dalam CD promosi tersebut berisi empat lagu. Dua lagu bertajuk “Days of War, Nights of Love” dan “Refuse to Forget” yang proses penggarapannya dilaksanakan di studio rekaman legendaris Record Plant, Hollywood, AS. Dua nomor lainnya, yaitu “Harimau! Harimau!” dan “Bubur Kayu” direkam di Bali. Selain itu, Navicula juga merilis film dokumenter berdurasi 18 menit yang merekam di balik layar perekaman album ini di Hollywood.

Berbicara mengenai alasan pemilihan nama album, vokalis Navicula, Gede Robi, berkata, “Love Bomb untuk judul album muncul belakangan, setelah melihat materi album banyak bertema cinta. Seperti harimau Sumatera yang kehilangan cintanya. Bagaimana mengaktualisasikan cinta dan merebut kontrol atas diri di tengah gempuran gaya hidup yang mengangungkan kebendaan.”

Untuk menggarap album ini, Navicula dibantu oleh seorang produser kreatif, Alain Johannes, yang sudah terbukti kepiawaiannya dalam menangani album proyek solo Chris Cornell dan Jimmy Eat World. Johannes juga pernah menjadi kolaborator Queens of the Stone Age, Them Crooked Vultures, serta tampil dalam proyek album dan film dokumenter Sound City yang disutradarai Dave Grohl.

Atas dukungan dari produsen mikrofon asal Australia, RODE, Navicula dapat merekam album tersebut di Plant Record selama tiga hari pada November lalu. Berkat tangan dingin Johannes, Navicula yang seharusnya hanya mendapatkan jatah merekam tiga lagu dapat bekerja efisien sehingga terekam lima lagu secara live. Kelima lagu tersebut kemudian memasuki tahap mixing dan mastering oleh Johannes di Los Angeles, AS.

Meskipun album ganda ini digarap di dua tempat berbeda, Robi menganggap karya bandnya ini merupakan satu keutuhan. “Lima lagu dari Record Plant adalah pencapaian teknis rekaman dengan standar industri musik Amerika dengan arahan produser kreatif berpengalaman. Kami sajikan bersama lagu-lagu yang kami rekam di Bali dengan kami sendiri yang menjadi produser kreatif. Tapi energi album ini sebuah keutuhan, kami mencintai musik, di manapun kami memproduksinya,” ujar Robi.

Lirik lagu “Days of War, Nights of Love” ditulis oleh Kartika Jahja yang terinspirasi dari buku berjudul sama. Tulisan tersebut diterbitkan oleh kolektif anarkis, CrimethInc. Lagu bernada kritik sosial lainnya juga dapat ditemukan dalam lagu “Refuse to Forget” yang merupakan seruan untuk menolak lupa atas kasus ketidakadilan terhadap aktivis Hak Asasi Manusia seperti Munir.

Sebagai penyandang julukan “Green Grunge Gentlemen”, Navicula juga merilis lagu “Harimau! Harimau!”, sebuah lagu tentang harimau Sumatera yang kehilangan hutan sebagai rumahnya dan kini nyaris punah. Kuartet ini juga menciptakan lagu “Bubur Kayu” yang menyorot kasus eksploitasi hutan Indonesia yang luasnya terus menipis akibat ekspansi perusahaan kertas dan perkebunan kelapa sawit.

Di samping materi album ganda, kemasan album ini juga dirancang ramah lingkungan. Kemasan album ini tidak menggunakan material plastik. Untuk sampul album, Navicula memakai material daur ulang kemasan Tetra Pak yang biasa dipakai untuk minuman, dikombinasikan dengan kertas daur ulang dan karet ban dalam bekas. Pengerjaan sampul album ini dilakukan oleh Komunitas Sapu di Salatiga yang biasa mengerjakan upcycle ban dalam bekas menjadi benda dengan fungsi lain.

Memberikan pendapatnya mengenai kolaborasi karya tersebut, Robi bertutur, “Senang bisa berkolaborasi dengan komunitas lain dalam produksi album ini. Kita sering lupa, terlalu mengagungkan do it yourself, padahal akan jauh lebih baik kalau do it together.”
read more...

Biography Navicula

Biografi Navicula
Navicula didirikan tahun 1996 di Denpasar, Bali oleh dua aktivis musik, Robi dan Dankie. Setelah beberapa kali ganti personil di tahun-tahun awal band ini dibuat, formasi terkini adalah: Rob (vokal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), Gembull (drum). Nama Navicula diambil dari nama sejenis ganggang emas bersel satu, berbentuk seperti kapal kecil (dalam bahasa Latin, Navicula berarti kapal kecil).



Band ini mengusung grunge sebagai warna dasar musik mereka, berpadu dengan beragam warna etnik, psychedelic, alternatif, progresif, dibalut rock murni. Liriknya sarat dengan pesan aktivisme dan semangat tentang Damai, Cinta dan Kebebasan.


Navicula dikenal aktif di dunia indie musik, walau sempat kontrak dengan major label Sony-BMG di tahun 2004. Bersama Sony-BMG, Navicula merilis album ke-4 mereka yang berjudul, "Alkemis". Namun, tahun 2007 album ke-5 mereka, "Beautiful Rebel", dirilis secara independen dan band ini kembali mengobarkan semangat idealisme mereka melalui jalur indie.

Navicula bermarkas di Bali dan tetap eksis di dunia musik nasional meski berjuang di jalur indie. Sejak launching album ke-5, Navicula sudah mulai mengadakan promo tur ke daerah Jawa.

Musik Navicula dipengaruhi kuat oleh alternatif rock 90-an, terutama grunge / seattle-sound dari band-band macam Soundgarden, Pearl Jam, Alice in Chains, dan Nirvana. Namun, yang membuat musik mereka menjadi sedemikian unik adalah pekatnya pengaruh budaya Bali saat ini sebagai melting-pot dunia (tempat bercampurnya beragam budaya), dan kesempatan untuk berkreasi di suatu kondisi yang sangat kontras ini.

Dari budaya spiritual klasik Bali, hingga para seniman internasional yang menetap di Bali untuk menimba inspirasi, dan kultur punk rock di pelosok Kuta, band ini memperoleh rasa asli mereka melalui semua hal tersebut, rasa ‘golden green grunge’, rasa Navicula.

Navicula, sebuah band grunge yang dikenal dengan sebutan “the Green Grunge Gentlemen” karena aktifnya mereka di dunia aktivisme sosial dan lingkungan. Tumbuh di Bali, band ini menyerap banyak inspirasi dari beragam budaya dan informasi dari berbagai belahan dunia, isu sosial, serta perubahan ekologi yang terjadi di Bali dan dunia secara global, dan menjadikannya sebagai topik lagu-lagu mereka. Isu lingkungan hidup merupakan masalah vital yang sangat mempengaruhi kita semua saat ini, sehingga kami percaya sangatlah penting untuk bertindak segera dan melakukan apapun yang kita bisa untuk menyebarkan kesadaran dan pemahaman mengenai isu lingkungan ini.

Mereka memiliki musik, memiliki media berpengaruh dan bahasa universal, dan dengan media inilah mereka berjuang menyebarkan kesadaran positif, terutama bagi kaum muda sebagai agen perubahan. Mereka percaya, lewat kegiatan berkesenian, mereka bisa menebar benih perubahan. Kita perlu berubah, dan Navicula ingin menjadi bagian dari perubahan ini.

“Bisa dibilang musik adalah agama kita, di dalamnya ada filosofi, etika, dan ritualnya. Waktu dan uang kita habis di musik. Agamamu adalah dimana uang dan waktumu lebih banyak kau gunakan! It’s all about Rock n’ Roll !!!” – Robi (vokalis Navicula).

Personil Navicula :
Robi - Vokal & Gitar
Made - Bass
Dankie - Gitar
Gembull - Drum
read more...

Biography Suicidal Sinatra

Biografi Suicidal Sinatra
Suicidal Sinatra terbentuk di Bali pada tahun 1996 awalnya dengan mengusung nama S.O.S. (Soul Of Speed) yang jika dilihat dari namanya tegas menyiratkan genre musik yang diminati yaitu Heavy Metal utamanya Helloween.



Pada fajar 2001 S.O.S. pelan-pelan bergeser dari genre Heavy Metal menuju Rockabilly a la Living End serta diramu dengan Psychobilly tipikal Tiger Army & Reverend Horton Heat (campur sari ini mereka istilahkan sebagai “Rockabilly Nu Skool”). Sampai kemudian 14 Februari 2004 S.O.S. merilis album indie pertama bertajuk “Valentine Ungu”. Album yang berisikan 8 lagu ini seakan mendeklarasikan S.O.S. telah resmi pindah jalur ke Rockabilly Nu Skool.


Album Valentine Ungu sendiri mendapat respon positif dari pasar, dimana 700 keping segera saja ludes habis terjual. Beberapa media massa nasional memberi komentar cukup baik terhadap Valentine Ungu. Sementara komunitas Indie di Jakarta sempat pula mencicipi dahsyatnya performa mereka saat mengguncang GOR Jakarta Utara dan hajatan kampus Universitas Sahid pada pertengahan 2004 silam.

Untuk melengkapi perubahan identitas musikal dari Heavy Metal ke Rockabilly Nu Skool maka pada 16 Agustus 2004 S.O.S. formal berubah wujud menjadi SUICIDAL SINATRA (terjemahan bebasnya : Frank Sinatra dalam versi yang lebih garang/nekat ). Sinatra—dengan personil terakhir Opix Sinatra (biduan, gitar pendamping), Leo Sinatra (gitar utama), Kappe Sinatra (bass betot), Ajie Sinatra (drum)—di saat hampir bersamaan pada akhir 2004, menyabet gelar prestisius sebagai kelompok musik terbaik di ajang Indie bergengsi “Skool Of Rock” sesi ke II yang diselenggarakan oleh Hard Rock CafĂ©, Bali.

Tepat setahun setelah dirilisnya Valentine Ungu, pada Februari 2005 Sinatra menerbitkan mini album ”Love Songs & Stinkin’ Cheese” dengan 5 tembang cadas bertempo sedang: “White Shoes”, “No Money No Honey”, “Can’t Be Ur Man”, “Going Old With You”, serta “Kentang”.

Eksistensi “Love Songs & Stinkin’ Cheese” ternyata sanggup menculik perhatian jajaran media nasional berpengaruh mulai dari Hai, Trax, Ripple, hingga Rolling Stone. Malah Rolling Stone secara tegas memberi Sinatra gelar terhormat dengan menempatkan Sinatra sebagai “Artists to Watch” di salah satu edisinya. Ekspose yang demikian gencar akhirnya menggugah para event organizer untuk mengundang Sinatra tampil dalam konser-konser bergengsi. Yang patut dicatat di antaranya adalah kehadiran mereka sebagai band panggung utama di Soundrenaline Bali pada Agustus 2005. Sementara single “White Shoes” penetrasinya cukup jauh hingga mencapai Jepang. Single tersebut disertakan dalam album kompilasi “Tropicalize II” disatukan dengan artis-artis besar macam Pennywise & Jack Johnson. Dan videoklip “White Shoes” juga menorehkan jejak prestasi fenomenal dengan meraih juara pertama dan bertahan hingga beberapa minggu di chart videoklip indie Global TV.

Pada 2007 Sinatra akhirnya merilis album–yang frontal mengekspresikan pilihan genre mutakhir mereka—bertajuk “Boogie Woogie Psychobilly”. Benar, Sinatra telah mengukuhkan dirinya sebagai band pioneer Psychobilly di Indonesia.




Personil Suicidal Sinatra :
Leo Sinatra - Vocal & Guitar
Kappe Sinatra - Stand Up Bass & Backing Vocal
Aji TheBilly - Drum
read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Berita Menggemparkan All Rights Reserved.