Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Biography White Shoes And The Couples Company

Berita Musik Terbaru
Biografi Band - White Shoes & The Couples Company adalah sebuah kelompok musik yang membawakan musik Pop Indonesia. Musiknya banyak dipengaruhi oleh lagu-lagu dalam soundtrack filmclassic jazzclassic strings arrangements yang dibubuhi oleh irama retro disco, easy listening acoustic ballads dan sedikit sentuhan nada dari keyboard mainan anak-anak keluaran akhir tahun 70-an. Indonesia tahun 70-an, dan terinspirasi dengan semangat akustik para musisi tahun 30-an. Ditambah dengan



White Shoes & The Couples Company terbentuk pada tahun 2002 disebuah kampus kesenian dibilangan Jakarta Pusat. Dua mahasiswa Seni Rupa, Aprilia Apsari (Sari) & Yusmario Farabi (Rio), yang sedang menjalin hubungan asmara memutuskan untuk membuat sebuah grup musik, dengan mengajak teman dekat satu fakultas mereka yang bernama Saleh. Maka terbentuklah formasi pertama grup musik White Shoes & The Couples Company. Sari pada posisi vokal & violin, Rio pada posisi gitar rythm serta Saleh pada posisi gitar melodi. Atas dasar kebutuhan, kemudian Sari & Rio mengajak sepasang suami istri dari fakultas musik, Ricky pada posisi Bass & Cello serta Mela pada posisi Keyboard, Piano & Viola. Terakhir Ricky mengusulkan untuk merekrut kenalannya, John Navid yang juga dari fakultas musik menduduki posisi drummer.

White Shoes And The Couples Company kemudian merilis debut albumnya pada tahun 2005 lewat label Aksara Records dan didistribusikan oleh Universal Music Indonesia. Selain itu White Shoes & The Couples Company juga turut mengisi album soundtrack film “Janji Joni” dan “Berbagi Suami” produksi Kalyana Shira Films.

Setelah sukses dengan album perdananya, White Shoes And The Couples Company memproduksi mini album (EP) berjudul ”Skenario Masa Muda” yang dirilis oleh Aksara Records pada bulan September 2007. Mini album kali ini berjalan berkesinambungan dengan pergerakan melestarikan filem Indonesia masa lalu yang bekerjasama dengan Kineforum(Komite Film Dewan Kesenian Jakarta) dan Pusat Arsip Film Sinematek Indonesia.

White Shoes & The Couples Company juga telah menandatangani kontrak dengan Minty Fresh Records, sebuah label rekaman yang berasal dari Chicago, Amerika Serikat.
Sebelumnya, di bulan Januari 2007, pihak Minty Fresh Records bertemu dengan Aksara Records, yang kemudian sepakat memberikan lisensi kepada Minty Fresh untuk merilis album pertama White Shoes & The Couples Company.
Pada bulan September 2007 lalu, Minty Fresh Records merilis album pertama White Shoes & The Couples Company di lima wilayah yaitu Amerika Serikat, Mexico, Kanada, Australia dan Jepang. Dalam album rilisan Minty Fresh ini, White Shoes & The Couples Company menambahkan 2 bonus lagu yaitu Kapiten & Gadis Desa, dan Sabda Alam.

Artis-artis yang tergabung dalam Minty Fresh antara lain The Cardigans, Tahiti 80, Veruca Salt, Liz Phair, The Legendary Jim Ruiz Group, Kahimi Karie, Komeda, Ivy, The Poems, dan Prototypes.


Personil White Shoes & The Couples Company:
  • Saleh Husein (Gitaris Elektrik & Vokalis WSATCC)
  • Aprilia Apsari (Vokalis WSATCC)
  • Rio Farabi (Gitaris Akustik & Vokalis WSATCC)
  • John Navid (Drummer & Vibes)
  • Aprimela Prawidyanti (Piano, Viola, Synth, Keyboards, vocal)
  • Ricky Surya Virgana (Kontra Bass, Cello, Bass, Vokal)
read more...

Live Review : Sigur Ros Live in Jakarta

Live Review : Sigur Ros Live in Jakarta


Penampilan band Islandia, Sigur Ros di Jakarta menyajikan hal yang berbeda, tak seperti konser-konser kebanyakan, dalam arti harfiah. Tak selamanya musik hanya bisa dinikmati lewat telinga, namun, bagi Sigur Ros, musik pun harus dipadu dengan elemen-elemen lainnya seperti tata cahaya juga videography yang keren agar bisa memanjakan mata.

Hasilnya, selama dua jam pertunjukan, mereka menuntun penonton merenung, tercengang hingga turut bersenandung secara koor yang massif tanpa aba-aba.

Bertempat di Istora Senayan, Jakarta Pusat, malam ini, Jumat (10/5/2013), band beranggotakan Jonsi Birgisson (vokal dan gitar), Georg 'Goggi' Holm (bass) serta Orri Pall Dyrason (drum) itu sukses mengolaborasikan ketiga elemen tersebut di atas panggung.

Selama tampil, dengan suara falsetto-nya, sang pentolan band, Jonsi, khusyuk bernyanyi sambil memainkan gitar yang ia gesek bak biola.

Namun meski konsep musik yang ia bawakan bersama dua rekannya selama ini dikenal 'tak biasa', sekitar 2000-an penggemarnya yang hadir malam ini tetap terhanyut menikmati lagu yang mereka bawakan, diantaranya 'Vaka', 'Hrafntinna', Saeglopur, 'Svefn-g-englar', 'Varo', juga 'Olsen olsen', juga tembang terpopuler mereka 'Hoppipola + meo blo'nasir'.

Sayang, Sigur Ros tampak irit kata-kata, menyapa penggemar di Jakarta yang antusias menyaksikan penampilan mereka di atas panggung. Hanya sepatah dua patah yang mereka ucapkan seperti thank youatau thank you very much saja.

Namun, bagaimanapun juga, pertunjukkan band yang terbentuk sejak 1994 ini meninggalkan jejak bermakna di hati para fans di ibukota. Total 12 lagu yang mereka persembahkan terasa tak cukup. 

Para penonton pun berteriak seiring, lagu terakhir yang dibawakan berjudul 'Popplagio', menutup perjumpaan mereka dengan sebagian para penggemarnya yang pulang dengan hati hampa karena Sigur Ros tak memberikan bonus tampil dengan satu lagu lagi saja ketika teriakan 'We want more' membahana di seantero dinding Istora.
read more...

Detail Tiket dan Rundown Hammersonic Festival 2013

Hammersonic, Jakarta International Metal Festival kembali digelar tahun ini, dengan sejumlah band yang siap menggemparkan Ibu Kota. Bertempat di Ecopark Ancol, Jakarta, pertunjukkan ini menjanjikan penampilan yang lebih megah dengan waktu pelaksanaan selama dua hari pada 27-28 April mendatang.

Sejumlah aksi band metal papan atas internasional siap mengguncang para metalhead tanah air. Band-band tersebut adalah Cradle of Filth (UK), Obituary (USA), Cannibal Corpse (USA), Epica (Ned), As I Lay Dying (USA), Dying Fetus (USA), Lock Up (UK), Destruction (Ger), dan Hour of Penance (It.) yang membuat festival ini semakin bergengsi.

Apalagi ditambah dengan kehadiran Putrid Pile (USA), Dyscarnate (UK), Saturnian (UK), Gorod (Fra.), Voyager (Aust.), Whoretopsy (Aust.), Inanimacy (Aust.), Sensory Amusia (Aust.), The Amenta (Aus), Advent Sorrow (Aust.), Belligerent Intent (Aust.), Ouroboros (Aust.), Ethereal Sin (Japan), Sil khannaz (Malaysia), juga band lokal Indonesia diantaranya Power Metal, Sucker Head, Edane, Burgerkill, Seringai, Dead Vertical, Kapital, Unremains, Rezume, Outright, Hellcrust, Revenge, Down For Life, Kraken, Rising The Fall semakin menambah menarik gelaran tahunan ini.

Mengenai harga tiketnya pun masih cukup terjangkau untuk menyaksikan kualitas dari band-band yang telah disebutkan diatas, yakni:
Rp. 330.000 (hari pertama, 27 April 2013)
Rp. 330.000 (hari kedua, 28 April 2013)
Rp. 550.000 (hari pertama dan kedua dibeli secara langsung)

Selain dua panggung megah dengan kapasitas sound system pendukung hingga 200.000 watt, perangkat fasilitas pendukung lainnya, juga tidak kalah menarik; VIP Lounge untuk meet and greet bersama band, merchandise dan clothing show case, food and beverage hingga activation dan games yang akan siap melayani kurang lebih 30.000 orang yang tersedia selama festival berjalan.

Berikut ini jadwal lengkap band-band yang akan tampil di Hammersonic 2013, dikutip dari Hammersonic.com:

Rundown Hammersonic 2013
read more...

Biography Souljah

Biografi Souljah
Souljah adalah grup band yang dibentuk pada tahun 1998 ketika sebagian besar personilnya masih kuliah di Universitas Indonesia, pada awalnya bernama Arigatoo yang membawakan musik beraliran SKA. 

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya penguasaan Jamaican musik mereka, pada tahun 2005 Arigatoo berganti nama menjadi Souljah. Kata 'souljah' sendiri berasal dari pelafalan slang kata 'soldier'.


Formasi Souljah saat ini antara lain Danar (vokal), Sa'id (toasting), Renhat (bass), Bayu (gitar), David (keyboard), dan Vino (saxophone). Mereka melanglang buana dari satu panggung ke panggung lain dengan mengusung aliran musik regae.

Reggae adalah salah satu pilihan dalam musik mereka. Sebenarnya, Souljah memainkan semua genre Jamaican musik, mulai dari SKA, rocksteady, reggae, serta dub dancehall. Yang membuat mereka memilih aliran musik ini adalah karena mereka sudah memainkan genre Jamaican musik ini sejak tahun 1998.

Saat masih menyandang nama Arigatoo, grup ini telah tergabung dalam sebuah album kompilasi keluaran Authority Records dari Jepang. Album yang berjudul ASIAN SKA FOUNDATION ini dirilis pada tahun 2003. Sebelumnya, mereka juga turut mengisi album kompilasi keluaran Sony Music Indonesia yang bertajuk SKA MANIA pada tahun 2000.

Kemudian pada tahun 2003, Arigatoo merilis sebuah album yang bertajuk KAMI BUKAN PERAWAN LAGI, sebelum akhirnya mereka berganti nama menjadi Souljah dan merilis album pertamanya "BREAKING THE ROOTS" pada tahun 2005, dengan single andalannya, Jamaica's Away. 

Pada tahun 2007, Souljah merilis album kedua mereka yang diberi judul "BERSAMAMU", dengan single andalannya yang juga berjudul Bersamamu. Album tersebut kini hanya dijual di Indonesia, namun bagi mereka yang berada di luar indonesia dan ingin memiliki album ini, bisa membelinya lewat itunes.

Album ketiga Souljah yang bertajuk "MESTAKUNG" dilepas pada tahun 2009. Mestakung adalah kependekan dari Semesta Mendukung. Album ini sekaligus melengkapi 'trilogi' merah-kuning-hijau. Penggemar Souljah yang memiliki album lengkap band ini akan mendapatkan susunan merah, kuning, dan hijau saat menata kaset atau CD mereka berurutan.

Souljah terinflunce oleh Skatalites, Save Ferris, Tim Armstrong, Bob Marley & The Wailers, Jason Mraz, No Doubt, Tsuyoshi Kawakami & His Moodmakers, Hepcat, Go Jimmy Go, The Miceteeth, Bedouin Soundclash, MMB, Sean Paul, Shaggy, dan Big Mountain.

Hingga kini, Souljah aktif diundang dari panggung ke panggung di Indonesia, terutama di daerah Jakarta dan sekitarnya. Dan kesibukan Souljah sekarang adalah mempersiapkan album keempat mereka yang dirilis di bawah naungan record label yang baru mereka dirikan, Offbeat Music Indonesia.

Personil Souljah:
Danar - Vocal
Said - Toast
Renhat - Bass
David - Keyboard
Vino - Saxophone
read more...

Biography Joni Kemon

Biografi Joni Kemon
Joni Kemon adalah anak muda yang bersolo karir, blakblakan & apa adanya, main musik sejak 1994 dan sempat tergabung dengan beberapa band lokal sampai akhirnya memutuskan solo karir pada tahun 2007, dengan menyuarakan spirit Rawkkk En Bluzzz.

Lahir tahun 1981, tumbuh & besar di kota kecil 60 km selatan Jakarta, joni yang dari kecil emang hiperaktif & nakal sudah terpengaruh musik rock yang ditularkan oleh abang-abangnya.

Sejak umur 6 tahun sudah mengenal Guns N’ Roses, Van Halen, Iwan Fals & Slank, bahkan joni kecil yang nakal saat umur 12 tahun sudah menjadi slankers & sering nongkrong ke markas slank. Joni sering saat balik sekolah (SD-SMP) nekat ke Jakarta pake kereta, cuman bawa duit pas ongkos plus gitar bolong doang.

Pada saat itu pula joni kecil nekat nodong minta belajar gitar sama beberapa musisi potlot seperti Bongky & Imanez (alm). Kalo orang lain cuman minta foto, gue malah pengen nyuri ilmu dari mereka, ya gue minta diajarin kunci-kunci dasar maen gitar khususnya lagu-lagu slank.

Saat SMP-SMA, joni juga sering nongkrong di Perintis Gank, sebuah komunitas musik underground lokal kota bogor & sempat belajar gitar sama beberapa gitaris lokal kota bogor seperti Ame & Andri “Smash Guitar”.

Setelah 13 tahun main band (1994-2007) joni akhirnya nekat memutuskan Solo Karir, sebenernya keputusan solo karir joni lakukan setelah joni merasa selalu gagal membentuk band yang pengen punya karya-lagu sendiri.

Bermodal cuman komputer & peralatan rekaman seadanya yang dikumpulkan hasil nabung dari duit jajan sekolah & duit nyatut spp disaat kuliah, joni nekat membuat merampungkan lagu-lagu sendiri, mulai dari nulis lagu sampe rekaman drum, bass, gitar plus operatorin joni kerjakan sendiri.

Lirik joni tulis secara blakblakan, liar & kasar pokoknya seenaknya aja, musik pun dikerjakan dengan bebas tanpa ada tekanan harus enak didenger apa nggak, intinya disaat joni solo karir joni harus menuangkan 100% idealisme joni, peduli setan orang mau suka atau nggak yang penting joni jujur sama diri sendiri.

Setelah Rekaman musik selesai, akhirnya joni menyeleksi beberapa vokalis dan akhirnya sesi vokal diisi oleh Mc Axl, yang memang kebetulan 1 band di ArrowGuns & sempet punya proyek bareng di The Narsis. Setelah proses rekaman selesai, mixing & mastering dikerjakan oleh John Paul Ivan (Eks Boomerang) yang memang sudah berteman dekat dengan joni di saat maen bareng di Magelang bersama ArrowGuns.

Setelah semua produksi album (lebih tepatnya mini album) selesai, joni akhirnya mulai mencari Pasukan yang harus selalu Kemon membantu Joni disaat Gerilya. Akhirnya terbentuklah Pasukan Kemon Formasi ke-1 terdiri dari Bonsay (Drum), Koswara (Bass), Joni (Gitar) & Mc Axl (Vokal) diakhir tahun 2008.

Setelah tampil pemanasan beberapa kali di gigs lokal kota bogor, bulan Desember 2008 Joni rilis CD album pertama EP "Titisan Rockstar” secara FREE (dibagi-bagikan gratis disaat manggung) yang berisi 5 buah lagu : Lagu Buat Loe, Balada Anak Kampus, Nona Manis, Blues Musisi Banci & Dunia Rock N’ Roll.

Joni memang berkarya sangat idealis, blakblakan & nggak peduli mau disukai maupun dibenci yang penting joni berkarya jujur & tulus dari hati, joni nggak kepikiran buat untuk terkenal, yang penting unek-unek joni selama 13 tahun bermusik keluar di album ini.

EP “Titisan Rockstar” dibuka oleh Lagu Buat Loe sebuah lagu yang jelas-jelas ditujukan untuk sebagian besar Major Label yang kerjaannya hanya mengeksploitasi & mengkebiri musikalitas para musisi.

Pergerakan Joni Kemon memang sangat militan, saking militannya beberapa pasukan kemon yang ga kuat mental akhirnya mental, akhirnya sering terjadi pergantian Formasi Pasukan Kemon baik disesi drum, bass maupun vokal, tapi pergerakkan ekstrim Joni Kemon akhirnya membuahkan hasil, walaupun hasilnya pro & kontra (ada yang suka maupun ga suka), lagu2 Joni Kemon mulai dikenal sampai seluruh Indonesia, termasuk 1 Single Non Album Realita Bulan Suci yang liriknya penuh kontroversi.

Walaupun selama 2 tahun bergerak tanpa dukungan Label & Manajemen artis alias murni Indiependent nama Joni Kemon semakin ramai dibicarakan & pada tahun 2010, mulai muncul komunitas BaladJoni di beberapa kota di Indonesia, seperti Medan, Kota Jambi, Bogor, Cirebon, Jogjakarta dan kota2 lainnya.

Akhirnya karena tuntutan dari BaladJoni yang ingin membeli & memiliki CD Original, Joni Kemon akhirnya merilis Jualan CD Original & beberapa Paketan Merchandise (T-shirt,CD & Stiker), gue lupa jumlahnya soalnya ga dicatat sih tapi yang pasti EP “Titisan Rockstar” laku diatas 500 keping CD.

Pergerakan Ekstrim & Militan Joni Kemon, akhirnya membuat Slank melalui KoranSlank mengundangnya maen menjadi Opening disaat Ultah Kaka (2010), pada saat itu pula akhirnya tersebar kabar bahwa joni juga dulunya memang seorang slankers, kabar ini pun menyebar cepat ke seluruh SFC di Indonesia, dan akhirnya seperti penyemangat buat para slankers untuk tetap bekerja kerja keras, menjadi diri sendiri & berdiri diatas kaki sendiri seperti Joni Kemon (Slankers yang berkarya mandiri tanpa nebeng eksis ke manajemen slank).

Bulan Oktober 2010, Candil (Eks Seurieus) pun mengajak Joni Kemon tampil bareng di kota Jambi, malah Joni Kemon sempat jamming bareng Rockstarr Conspiracy (Sandy Pas, JPI, Krisna, Candil) diacara charity gempa sumbar di Senayan City membawakan lagu Knockin Heaven Doors milik GNR.

Awalnya Joni Kemon berkarya memang iseng & hanya ingin membuat 1 album saja sebagai pelepas unek-unek 13 tahun bermusik, tapi tuntutan berkarya dari baladjoni akhirnya membuat Joni Kemon harus konsisten berkarya, akhirnya paruh kedua tahun 2010, Joni Kemon mulai masuk lagi ke studio Rekaman, merampungkan album ke-2nya.

Pada saat memulai menggarap album ke-2 ada beberapa Major Label & Investor tertarik mau menggaet Joni Kemon, tapi Joni menolak tawaran tersebut karena cara bisnis mereka menurut Joni ngga fair, ya mereka maunya cuman cari keuntungan doang tapi dari segi fee ngga adil, musikalitas & idealisme gue juga harus dikurangin, hahaha males gue … Hey Fucking Major Label Go to Hell !!! … gue lebih baik tetap Indie kalo cara lu ga saikkk !!!

Sesuai dengan judul albumnya, album ke-2 Joni Kemon memang Blakblakan seperti Lagu Still Yakin isi tentang keyakinan Joni Kemon tetap bisa konsisten dimusik walau tanpa dukungan Industri Musik, Ababil menceritakan fenomena anak muda & ABG labil yang menjadi korban gaul, Generasi Terbuang menceritakan spirit orang susah yang tetap terus berjuang, Konspirasi Nanana bercerita tentang kebobrokan Bajingan2 Politik di Indonesia, dan lagu2 dahsyat lainnya (Sebarkan Senyuman, Bukan Sulap Bukan Sihir) yang memang ditulis sesuai dengan gambling & apa adanya.

Pergerakan Era album “Blakblakan” tidak terlalu berat, karena disaat Joni Kemon bergerak dibantu oleh beberapa Balad yang akhirnya menjadi Team Manajemen Sarank Kuntilanak (Manajemen milik sendiri) ya beberapa balad akhirnya memang bener2 bergabung & ikut berjuang bareng joni, joni punya sebutan khas buat mereka yaitu Kampretnya joni.

Awal tahun 2011 album Blakblakan mulai promo, Joni Kemon sempat menjadi Opening Act Candil & John Paul Ivan di acara GNR Nite di Tangerang, setelah itu Joni Kemon rilis VideoKlip Generasi Terbuang yang proses pembuatan murni dibikin oleh Kampretnya joni.

Bulan Mei 2011 CD Original Blakblakan Resmi dijual, dalam bentuk CD Data (isinya data wave, mp3, videoklip & wallpaper), pada saat itu pula Joni Kemon mencetak ulang album pertama Titisan Rockstar dan menjualnya kembali dalam bentuk paket Boxset album ke 1 & 2. Dalam waktu 1 bulan saja Paketan Boxset sudah terjual 300 keping CD. Kalo versi free mp3 semua lagu2 Joni Kemon sudah download lebih dari 25.000 download tapi yang beli album sampe awal 2012 cuman sekitar 900 keping, itulah Indonesia.

Setelah Rilis Album Blakblakan, Joni Kemon kembali bergerilya secara Militan baik di panggung maupun non panggung, beberapa Pasukan Kemon yang ga tulus bermusik & ga kuat mental pasti bakal mengundurkan diri ataupun diganti oleh Joni, ya gue menilai perjalanan musik gue adalah sebuah seleksi alam, yang kuat pasti bisa bertahan yang ga kuat pasti mental, berjalan aja karena musik itu adalah sebuah perjalanan hidup.

Selama tahun 2011-2012, Joni Kemon semakin membumi semakin banyak Balad Joni, & semakin banyak juga support dari komunitas lainnya, seperti dukungan dari komunitas Slankers, Bipers, Boomers dan beberapa komunitas musik Rock lainnya.

Periode Pergerakan Gerilya Joni Kemon tak terasa sudah 5 tahun (2007-2012) dan sudah menghasilkan 2 buah album, tak terasa pula formasi Pasukan Kemon telah berganti 17 kali, setelah melalui proses panjang akhirnya Joni menyeleksi Pasukan Kemon yang bener2 siap mental & mau tulus maenkan Rock N’ Blues ala Joni & kerja keras untuk ikut ke dalam proses pembuatan album ke-3.

Bulan Maret 2012, Joni Kemon merilis 1 single “Solusi Indonesia” sebagai hadiah bagi BaladJoni yang tetap setia nunggu album ke-3 rampung, lagu bertema tentang kepedulian terhadap lingkungan ini direkam bareng bersama Pasukan Kemon Formasi ke-17, Alland (Drum), Roni (Bass), Luckman (Rhythm Guitar), Joni (Lead Guitar) & Deni (Vocal).

Formasi-17 adalah Formasi yang paling solid, pada bulan April 2012 mendapat undangan maen menjadi Opening BIP di Bens Radio Jakarta. Formasi ini pula yang berlanjut membantu Joni menggarap album ke-3.

Disaat Rekaman album ke-3, Joni Kemon mendapat tawaran menggarap album kompilasi Indie BORN TO FIGHT, akhirnya lagu “Solusi Indonesia” yang masuk ke dalam album kompilasi tersebut.

Disela rekaman album ke-3 yang penggarapan sangat santai, Joni Kemon terus melakukan pergerakkan panggung ke panggung seperti biasa, dan akhirnya di bulan Mei 2012, Joni Kemon punya kesempatan kembali menjadi Artist pembuka konser Slank Xtraligi 2012 di lapangan Ciluar Bogor.

Selama era BLAKBLAKAN tahun 2010 – 2012 joni terus ngamen panggung ke panggung, mulai dari Bogor, Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok, Cikarang, Karawang, Bandung, Sumedang hingga ke Singaparna, Tasik Malaya.

Autobiography
Nama Panggilan : Joni
Nama Musisi : Joni Kemon
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta, 1981
read more...

Biography Gribs

Biografi Gribs
Gribs memang menoreh jati dirinya sesuai dengan gaya rambut keempat personilnya. Ada yang gondrong dan ada yang kribo. Nama Gribs mulai mereka sandang secara resmi pada 13 Mei 2008. Namun sebetulnya kuartet rock ini justru telah berikhtiar menegakkan band ini sejak tahun 2005.

Terdiri atas Rezanov (vokal), Dion Blues (gitar), Arief Tri Satya (bass) dan Rashta (drum). Keempat bersahabat dan memiliki ikatan persaudaraan ini memang menggandrungi genre musik rock terutama kekaguman mereka terhadap band band rock yang mengandalkan kepiawaian bermain musik.


Jadi tak heran bila Rezanov menyebut sosok Robert Plant, Sebastian Bach, Minoru Nihara, Bon Scott serta Achmad Albar, sebagai deretan penyanyi yang mempengaruhi dan membentuk karakter vokalnya yang liar, melengking dan mempesona.

Gitaris Dion Blues malah mengaku mengagumi gitaris John Frusciante dari Red Hot Chili Peppers dan Paul Gilbert dari Mr Big.

Pencabik bass Arief mengidolakan bassist legendaris Led Zeppelin, John Paul Jones, Sting, Flea (bassist Red Hot Chilli Peppers), Geddy Lee (bassist Rush) dan bassist jazz rock Jeff Berlin.

Lalu drummer Rashta mengaku tersihir oleh permainan drum John Bonham (Led Zeppelin), Tommy Lee (Motley Crue) dan Mike Portnoy (Dream Theater).

Dari sederet pemusik yang menjadi bayang pengaruh Gribs dalam bermusik, sebetulnya secara sederhana kita telah bisa mereka-reka seperti apa warna musik yang dijejalkan oleh kelompok Gribs ini yang telah tampil dalam beberapa pentas rock seperti “Jakarta Rock Parade” (2008) maupun “Java Rockin’ Land” (2009).

Rasanya belakangan ini amat jarang band band berjubah rock yang tampil dalam industri musik negeri ini. Namun ditengah paceklik grup rock muncullah band baru dengan langkah gagah. Kenalkan Gribs yang merupakan akronim dari Gondrong Kribo Bersaudara.

Rasanya sudah lama kita tak tersentak dengan dentuman bass dan drum yang hiperkinetik, juga raungan gitar elektrik yang berpadu dengan lengkingan penyanyi rock sejati. Tapi kerinduan semacam itu seolah pupus dengan pemunculan Gribs.

Setidaknya membuat kita seolah terlontar ke era 80-an, di saat band band seperti Van Halen, Alcatrazz, Skid Row, Quiet Riot, Giuffria, Dokken, Motley Crue, Guns N’Roses hingga Bon Jovi tengah merengkuh kejayaan. Atau setidaknya di Indonesia di era yang sama tengah juga tengah berkibar grup grup rock seperti Grass Rock, Kaisar, Andromeda, Rolland, El Pamas, Roxx hingga EdanE.

Dan jika menyimak album debut Gribs yang berisikan 13 lagu ini rasanya siapapun yang menyimak pastilah mahfum bahwa Gribs tak syak lagi merupakan band yang ingin menyatukan kembali serpihan serpihan gaung rock era 80-an yang saat itu menyeruak dengan terminologi seperti hair band maupun glam-rock.

Selain menampilkan kualitas rock yang mumpuni, musik Gribs pun menjadi setara dengan pola penulisan lirik dengan tema tema yang beragam.

Mulai dari persoalan lingkungan yang kian kritis, romansa maupun yang berbau kritik sosial. Terlihat jelas bahwa Gribs memiliki perhatian lebih pula terhadap kekuatan lirik. Bahwa bagi Gribs sendiri, divisi lirik sebetulnya bukanlah sekedar penempelan deretan kata tanpa asumsi pada notasi musikal. Melainkan justru menjadi semacam kesatuan yang bersenyawa, yang tak bisa dipisahkan. Sebuah simbiose mutualisme nan padu. 

Personil Gribs :
Rezanov - Vocal
Dion Blues - Guitar
Arief Tri Satya - Bass
Rashta - Drum
read more...

Biography Sore

Biografi Sore
Sore dibentuk oleh tiga teman masa kanak-kanak (Ade Paloh, Mondo Gascaro & Awan Garnida). Pada akhir tahun 2001 Awan Garnida membawa dua teman-teman lain (Bembi Gusti & Reza Dwiputranto) untuk membentuk kelompok yang mereka sebut SORE (berarti "sore" dalam bahasa Indonesia).

Pada tahun 2005 akhir tahun 2004 dan awal mereka memberikan kontribusi dalam beberapa album kompilasi.

Kompilasi yang pertama adalah kompilasi musik dari scene Jakarta indie yang disebut "JKRT: skrg" (suatu abreviation dari "Jakarta, Sekarang" yang berarti "Jakarta, Now" ) dirilis oleh Aksara Records. Yang kedua adalah film original soundtrack "Janji Joni", juga dirilis oleh Aksara. 

Akhirnya pada bulan Juli 2005 mereka merilis panjang penuh debut album mereka "Centralismo" (Aksara Records), yang sebagian menjadi upeti ke Jakarta Pusat, di mana sebagian besar anggota dibesarkan. Musik mereka sangat bervariasi dari trek untuk melacak sebagai anggota masing-masing menyumbang bernyanyi memimpin dan lagu-menulis dalam album ini. Penggunaan instrumen vintage yang mungkin membuat kenangan sedikit era keemasan musik pop dari 50-an, 60-dan 70 hanya tanpa retro-ish. 

Produk musik Sore itu adalah bunga rampai dari beberapa genre yang diperoleh antusias dari mendengarkan dan mengalami musik dari dekade berbagai abad ke-20, dan berpuncak pada apa yang hanya dapat digambarkan sebagai" "rock kolase" ", sebuah, benar-benar baru benar-benar menarik sonic pengalaman.

Itu tenang album debut sukses dari seorang seniman indie, seperti yang terlihat dari ulasan yang media dan artikel. Ini menerima "empat bintang (****)" dari koran Jakarta Post. Pada September 2005 "Centralismo" ditinjau dalam majalah TIME ASIA sebagai "Salah satu Album WorthBuying Asia". Pada akhir 2007 album ini menempati peringkat no 40 dalam "150 Album Greatest Indonesion of All Time" di Rolling Stone Magazine Indonesia. 

Sambil mempersiapkan bahan mereka untuk album kedua mereka, mereka terlibat dalam empat album soundtrack lainnya asli: "Berbagi Suami" (Cinta Untuk Saham); "Kala" (Waktu Mati), Quickie Express, "Perempuan Punya Cerita" (Nyanyian dari Lotus) , salah satunya menjadi hit single, "Pergi Tanpa Pesan", pengerjaan ulang dari klasik jelas Indonesia dari akhir 1950-an. Dalam tiga dari film ini Bembie gusti dan Mondo Gascaro bersama dengan rekan mereka, Aghi Narottama juga bekerja sebagai direktur musik. 

Dan sekarang setelah bekerja bahan mereka selama lebih dari satu tahun, mereka baru saja realesed album kedua mereka berjudul "Ports of Lima" (Aksara Records - 2008) untuk pujian kritis besar. Musik dalam album ini relatif padat di tekstur dari rilis sebelumnya, dengan gitar lebih banyak dan distorsi, dan kepekaan atmosfer kuat.

Meskipun banyak tema dari lagu-lagu berasal dari pengalaman pribadi, bioskop, juga akan datang sumber inspirasi mereka, seperti yang ditunjukkan oleh lagu-lagu seperti "Essensimo" (400 Truffaut ini Blows), 400 Elegi (Elephant Man Lynch), Come By Sanjurou (Kurosawa Sanjurou).

Personil Sore :
Ade Paloh - Guitar & Vocal
Awan Garnida - Bass & Vocal
Bemby Gusti - Drum & Vocal
Mondo Gascaro - Keyboard & Vocal
Reza Dwiputranto - Guitar & Vocal
Dono Firman - Keyboard & Sample
read more...

Biography Thirteen

Biografi Thirteen
Thirteen adalah grup musik asal Jakarta yang didirikan pada akhir tahun 2006. Raynard, (mantan Pembunuhan Robot) dan Bobond (LoveHateLove) bertemu dan berbagi gagasan untuk membentuk kelompok baru dengan misi untuk menyajikan musik yang unik dan inovatif yang bertabrakan dan melengkapi dengan berbagai kelompok musik metal.


Saat itu Bobond yang mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung dengan tujuan membentuk grup musik yang baru. 

Mereka adalah teman-teman Bobond yaitu Echa (The Soul Shoes), Adit (The Soul Shoes), Dicky (ex-Menyedihkan) dan Rudy (Amakusa).



Pada awal pembentukan ini baru bernama Devil May Cry namun nama ini ditolak dua kali oleh Tom Myspace sebagai nama Devil May Cry telah digunakan oleh kelompok lain. Oleh karena itu seluruh anggota setuju untuk mengubah nama kelompok untuk "Thirteen".

Pada tahap awal Thirteen tidak berjalan lancar sebagai Raynard masih terlibat dengan kelompok tua, The Murder Robots. Ketika Raynard memutuskan untuk meninggalkan Pembunuhan Robots, Thirteen mulai roll dan mulai untuk membuktikan bahwa mereka sangat serius dalam musik mereka dan mulai menciptakan sesuatu yang "berbeda" untuk kesenangan mereka sendiri.

Thirteen menyajikan musik konvensional, terutama dengan percobaan metal dicampur dengan beat yang unik, suara synthesizer, efek gitar, disertai dengan geraman / menjerit dan suara yang lembut. Pada saat ini kebanyakan Thirteen memainkan kompilasi sendiri dan The Devil Wears Prada bertindak sebagai lagu penutup.

Thirteen telah melakukan pertunjukan musik dengan baik di beberapa gigs dan acara di Jakarta. Tanggapan dari penonton yang menggembirakan. Mereka berharap untuk dapat terus menciptakan musik yang bagus dengan lirik yang lebih baik, meningkatkan keterampilan teknis, kinerja tahap perbaikan dan mudah-mudahan ini akan dicapai dengan pembentukan personil yang ada.

Pada saat ini Thirteen memiliki delapan lagu dalam portofolio. Musik dan lirik yang sepenuhnya dibuat dan disusun sendiri.

Banyak teman-teman, penggemar dan penonton sering bertanya: "Apa gaya kelompok Anda" Terus terang, Thirteen tidak tahu jawaban yang benar karena dalam setiap lagu Thirteen Anda akan menemukan banyak unsur musik seperti Metal, Emo, screamo, Diskotik?, Punk, Jazz, Funk, dll Thirteen akan mencoba untuk tidak mengikuti aliran musik tertentu karena Thirteen senang berimprovisasi dan berharap bahwa musik akan menghibur penonton yang lebih luas. Oleh karena itu, kita berpikir Genre kita mungkin merupakan jenis campuran Eksperimental / Progressive / Electro atau Anda dapat menyebutnya Whatevercore.

Personikl Thirteen :
Raynard Rahardja - Scream & Growl
Jodi Melani - Clean Voc
Dicky Suhandi - Bass
Bondry Haryo Anabrang - Guitar
Rizky Zulfian - Keyboard & Synth 
Radityan Akbar - Drum
read more...

Biography Iwan Fals

Biografi Iwan Fals
Iwan Fals yang bernama asli Virgiawan Listanto adalah seorang legenda hidup Indonesia. Lahir di Jakarta, 3 September 1961; seorang Penyanyi beraliran balada dan Country yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.

Lewat lagu-lagunya, ia memotret kehidupan dan sosial-budaya di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya.


Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.

Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar di seluruh Nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktifitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang Oi dapat ditemui setiap penjuru Nusantara dan beberapa bahkan sampai ke mancanegara.

Perjalanan Hidup
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.

Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul. Tapi album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen.

Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records. Tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.

Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Waktu siaran acara Manasuka Siaran Niaga di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya yang kritis.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang di dukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.


Keluarga
Iwan lahir di Jakarta pada 3 September 1961 dari pasangan Haryoso (ayah)(almarhum) dan Lies (ibu). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.

Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini , yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).

Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991.

Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktifitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung Bogor Jawa Barat sekitar satu jam perjalanan dari Jakarta. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.

Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya. 

Belajar Gitar, Ngamen, Hingga Rekaman
Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan magrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gambapng menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangis

Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi.

Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.

Dulu aku pernah sekolah di Jedah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia. Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.

Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, aku cuma menenteng gitar kesayaganku. Dalam perjalanan dalampesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil baga gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kokkayak gini steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulka gitarku, premugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.

Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku.

Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar. Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones. Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada nggak diterima di pergaulan, sementaar aku nggak bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek, yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.

Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.

Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.

Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku lebih banyak trcurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.

Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu, dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.

Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu kau baru sadar kalau ternyata lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang menakui lagu ciptaanku.

Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian dibredel.

Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.

Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam, diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses. Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak-anak muda.

Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu, musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani Willy Soemantri.

Setelah tinggal di Jakarta dan masuk studio rekaman, aku masih tetap ngamen dari rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget, Blok M. Tapi setelah di Jakarta aku mulai mikir honor. Soal honor ini mau nggak mau jadi salah satu pemacu juga. Apalagi sebagai anak muda, aku juga butuh pacaran, butuh nonton. Ya, kebutuhan yang wajar bagi anak-anak mudalah.

Waktu itu namanya uang transport. Tapi kalau pas dadakan, biasana gratis. Aku ngamen nggak pilih-pilih tempat. Panggung hajatan, sunatan, nggak masalah. Lagu lagu yang kubawakan waktu ngamen biasanya lagu-lagu baru yang menceritakan masalah-masalah aktual yang terjadi di masyarakat.

Dulu jarang sekali pemusik memainkan lagu-lagu country. Apalagi main gitar sama harmonika sekaligus, jarang. Kalau melihat tanggapa penonton, aku raca cukup positif.

Kalau aku ngamen aku juga selalu nyanyi dengan riang gembira, meski syairnya sedih. Prinsipku, orang sedih kan boleh saja bergembira. Soalnya, dulu kalau aku membawakan lagu-lagu sedih, teman-temanku pada kabur semua.

Tanggapan untuk ngamen juga bertambah. Aku mulai diundang ke mana-mana. Mungkin karena pengaruh album Sarjana Muda (waktu itu album ini sangat terkenal. Semua lagunya selalu dinyanyikan anak-anak muda).

Waktu itu penghasilan dari ngamen saja per hari pernah sampai 20 ribu rupiah. Sebab orang yang kita datangi ngasih uangnya bukan untuk ngusir. Kalau dihitug sekarang barangkali nilainya sampai 300 ribu. Tapi, ya namanya ngamen, tentu penghasilannya tidak pasti. Kalau diambil rata-rata sehari sekitar dua ribu rupiah. Berarti sebulan bisa 60 ribu. Jumlah yang cukup lumayan untuk ukuran waktu itu, di awal tahun 1980-an.

Waktu itu orang nggak tahu siapa Iwan Fals. Meski sudah rekaman, dan kasetku lumayan sangat laku, tapi orang kebanyakan hanya tahu nama nggak kenal wajah. Mungkin karena aku nggak pernah masuk televisi (TVRI). Aku benar-benar stop ngamen setelah lahir anak keduaku, Cikal yang lahir tahun 1985.

Berharap Lewat Musik Bisa Memberi Arti
Dari kecil aku bercita-cita jadi tentara. Untuk memperjuangkan cita-citaku itu, aku menekuni olahraga. Aku aktif di bidang beladiri, silat, karate, kung fu, juga jenis olahraga yang lain, seperti sepakbola, basket, dan volly. Di bidang olahraga aku sempat berprestasi. Pernah juara II Karate Tingkat Nasional, terus pada 1989 Juara IV Karate Tingkat Nasional. Aku sempat masuk pelatas. Aku juga sempat melatih karate di tempatku kuliah, STP (Sekolah Tinggi Publisistik)

Tapi ternyata musik lebih menarik-narik. Musik aku rasakan lebih menggelitik. Olahraga aku ambil untuk kesehatan saja. Filosofi menang-kalah aku hilangkan. Kalau terjun di dunia olahraga, di sana selalu saja ada yang menang atau kalah. Sementara, aku kan lembut. Jadi, kalau melihat musuh kalah dalam komite Karate, ya aku trenyuh juga. Makanya, kalau mau ikut perlombaan, nomor komite aku tinggalkan. Aku ambil Kata Perorangan. Jadi benar-benar seni karatenya. Dan aku ambil nilai sportivitasnya.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI, aku mulai serius di musik. Waktunya memang telah disepakati, 3 tahun. Setelah itu, bubar. Jadi memang proyek SWAMI cuma 3 tahun, bukan karena ada persoalan.

Di Swami banyak hikmah yang dapat kuambil. Kita kan makhluk sosial yang tidak mungkin lepas dari pengaruh orang lain. Pasti ada pengaruh, dari dalam atau dari luar.

Dari situ syair-syairku jadi berubah. Aku menilai mulai ada pengendapan, tidak lagi frontal. Juga mulai universal. Apakah itu suatu kemajuan atau kemunduran, aku tidak tahu. Yang aku tahu ada perubahan dalam syair-syairku, dan menurutku itu wajar saja. Namun, kalau misalnya basic musikku "merah", paling akan berubah jadi "merah tua" atau "merah muda". Nggak mungkin berubah menjadi "hitam", "hijau", "kuning", atau biru".

Aku berharap dalam musik kehadiranku berarti. Syukur-syukur buat orang lain juga berarti.

Aku menulis syair inspirasinya lebih banyak dari hati. Dari sana aku lebih merdeka dan bebas mengekspresikan diri. Aku merasa tidak ada tekanan dari manapun, seperti pesanan teman, pesanan produser, atau tekanan dari diri sendiri.

Dulu, proses penulisan syair bermula dari baca koran, lantas bikin syair. Sekarang penulisan syairku tak harus berangkat dari membaca koran. Terkadang syair yang aku bikin tak ada kaitannya dengan peristiwa yang terjadi. Bukan berarti aku ingin merenung atau kontemplasi. Tapi aku tetap baca koran. Dengan membaca terus tanpa mengeluarkan langsung, aku lebih memperkaya perbendaharaan kata.

Dalam membuat lagu aku juga tidak menunggu mood. Aku setiap ahri bikin lagu. Seperti petani, dari Subuh dia bangun ambil pacul langsung pergi ke sawah dan mencangkul. Tidak pernah berpikir harus mencangkul yang mana dan nggak pernah berpikir mau tumbuh atau keserang hama.

Saja juga seperti aku. Perkembanganku sekarang begitu juga. Aku tidak pernah berniat bikin lagu. Yang aku lakukan, pagi ambil gitar, entah apa jadinya. Latihan jari saja, atau bikin syair, nggak tahu. Aki baca buku, baca koran. Nggak diniat, "aku mau bikin lagu".

Aku masuk televisi setelah tahun 1987. Rekaman pertama tahun 1979. Waktu siaran Manasuka Siaran Niaga di TVRI, sempat sih lagu Oemar Bakri keluar di TVRI.

Pendapatanku waktu itu masih keci. Waktu itu aku dibayar murah. Sekitar Rp 1,5 juta satu album dengan sistem jual putus. Pendapatan sebesar itu nggak cukup untuk kebutuhan anak satu. Ditambah Yos (Rosana) mengandung Cikal. Sudah pasti kebutuhan meningkat. Ditambah lagi harga-harga barang naik. Sampai 1983 aku nggak bisa mencukupi benar. Begitu lewat 1983, aku mulai bisa bernapas.

Nah, untuk menutupi kebutuhan keluarga, karena aku nggak ada kerjaan lain selain bernyanyi, aku mengamen. Terkadang dengan mobil colt abu-abu aku ngompreng. Dengan mobil itu aku narik penumpang sendiri. Istilahnya tarikan gelap. Keluarag tidak tahu. Sebab aku narik omprengan pas aku pulang dari studio. Lumayan, mobilku dapat penumpang 15. Tapi tidak kulakukan secararutin.

Intinya aku senang menyanyi. Terus apa salahnya kalau dalam menyanyi itu ada manfaatnya buat kehidupanku. Sebab aku juga nggak mau jadi maling.

Memang pandangan masyarakat waktu itu menganggap pengamen identik dengan pengemis. Maka dari itu jarang sekali pengamen yang beroperasi.

Style-ku saat ngamen biasa saja. Tidak berpenampilan seperti gembel. Memang waktu itu celana robel di dengkul, tapi saat itu memang sedang trend seperti itu.

Orang tidak tahu aku ngamen. Orang tuaku sempat bingung aku tidak pernah mengeluh soal keuangan. Suatu hari aku ngamen di kompleks ABRI. Waktu itu ibuku sedang arisan di sana. Eh, teman ibuku tahu aku ngamen. Terus teman ibuku tanya sama ibu, "Anak ibu ngamen ya?" Aku terus dimarahi.

Bakat seniku memang menurun dari orang tuaku, kedua orang tuaku senang musik. Ibuku malah senang difoto, ayah senang lukis. Sewaktu kecil aku sudah punya piano. Di rumah terkadang berisik, kalau sedang waktu-waktu sholat sering dimarahi. Orang tuaku ketat dalam mendidik soal agama. Hasilnya, aku pernah mendapat juara adzan tingakt DKI ketika masih SD.

Masa kecilku akrab dengan harmonika. Dulu pernah dikasih harmonika merk Hero. Di depan kunci C dan di sisi lainnya kunc G. aku nggak belaajr secara khusus, karena harmonika kan tinggal niup saja.

Sebagai penyanyi dan pencipta lagu, Iwan Fals punya tempat istimewa dalam peta musik Indonesia. Generasi akhir 1970-an hingga sekarang yang merasa terwakili oleh lagu-lagunya, menempatkan Iwan Fals sebagai idola. Lagu-lagu Iwan memang khas, kadang bernada keras menyengat, kadang lembut menyentuh, tak jarang pula ia bertutur dengan bercanda. Lagu-lagu Iwan semakin memiliki kekhasan karena kata-kata yang ia gunakan tidak klise.

Hal lain yang bisa kita baca, banyak memang musisi yang mampu membuat melodi yang tak kalah enaknya. Tapi soal membuat lirik, Iwan memang sulit tergantikan, atau bahkan tak ada duanya. Tak hanya pada lagu-lagu kritik sosialnya, tetapi juga pada lagu-lagu cinta. Meskipun bertema cinta, tapi di dalamnya tetap tersimpan visi dan pesan-peran kehidupan. Ini yang sangat jarang kita temukan pada lagu karya musisi lain.

Tentu yang membuat sosok Iwan begitu besar, bukan sekedar karena kemampuannya meracik lirik yang luar biasa, tapi yang tak kalah penting adalah lirik-lirik itu menjadi bagian integral dari visi dan perjalanan hidup Iwan sehari-hari. Lagunya adalah sikap hidupnya, dan itulah yang dia kerjakan. Iwan tahu benar perbedaan makna berindustri dengan berkesenian atau berkebudayaan.

Dengan segala karya dan karsa yang sudah ia hasilkan, wajar kalau Iwan Fals menjadi penyanyi dan musisi besar negeri ini. Iwan adalah legenda. Tapi sungguh pun banyak kalangan yang mengidolakannya, Iwan tetaplah bersahaja, tetap rendah hati, dan apa adanya.

Di bawah ini adalah beberapa tulisan biografi Iwan Fals. Dalam perjalanan hidupnya yang tak selalu mulus dan penuh liku, kita belajar banyak sosok Iwan Fals untuk menjadi manusia yang semakin baik, manusia selalu yang belajar dari perjalanan hidup masa lalu, manusia yang berguna, manusia yang tak pernah lelah melawan ketidakadilan dan menemukan kebenaran.

Autobiography
Nama Lengkap : Virgiawan Listanto
Nama Panggilan : Iwan
Nama Musisi : Iwan Fals
Tempat Tanggal/Lahir : Jakarta, 3 September 1961
read more...

Biography Marjinal

Biografi Marjinal
Marjinal adalah band beraliran punk rock yang terbentuk awal 1997, mereka terbentuk atas latar belakang kesamaan dalam menyikapi belantika hidup satu sama lainnya. Mereka berusaha menyampaikan suatu pesan akan suatu penolakan maupun penerimaan dan harapan setelah apa yang dirasa, dilihat, di raba, dan di dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Awalnya, mereka ingin kuliah, tapi semakin lama mereka tidak tertarik. Apa yang dipelajari di kampus telah mereka kuasai, mereka telah ahli dalam menggambar, desain dan lain-lain. Para personel Marjinal bertemu dan membicarakan situasi di luar kampus, yang atmospherenya bersifat represif, nggak bebas mengeluarkan pendapat atau berekspresi. Lalu mereka membangun sebuah jaringan namanya Anti Facist Racist Action (AFRA), yang didalamnya berisi kawan-kawan yang mempunyai kesadaran melawan sistem yang fasis.

Mereka menggunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda, untuk melawan sistem fasis yang diusung Orde Baru. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan, mereka secara kebetulan juga bermain musik. Dengan modal gitar dan jurus tiga kunci, mereka membuat lagu sendiri yang berangkat dari kenyataan hidup sehari-hari. Kemudian mereka menamakan kelompok itu awalnya Anti Military.


Marjinal terinflunce oleh Sex Pistols, Bob Marley, Leo Kristi, Toy Dolls, Bad Religion , The Crass, Benyamin S, dan Ramones, memulai awal karirnya pada tahun 1997 ketika itu masih menggunakan nama AA (Anti ABRI ) dan AM (Anti Military ) dalam komunitas underground dengan formasi: Romi Jahat (vocal), Mike (gitar ), Bob (bass), Steven (drum) dan menelurkan album pertama pada tahun 1997 dan album kedua di tahun 1999.

Dalam perkembangannya, Anti Military dipahami orang-orang sebagai sebuah band, Padahal mereka bukan musisi dalam arti sesungguhnya! Musik menurut mereka hanya sebagai alat komunikasi kepada khalayak yang lebih luas, lebih asyik, medium menyampaikan pesan dan jadi inspirasi untuk anak-anak di pergerakan ke depan ketika melihat kenyataan kehidupan sosial-politik dikangkangi rejim yang fasis militeristik.

Memasuki tahun 2001 band punk rock ini mulai menanggalkan nama AA dan AM, mereka resmi menggunakan nama baru yaitu Marjinal. Nama baru tersebut di dapat ketika Mike terinspirasi oleh nama pejuang buruh perempuan “Marsinah..Marsinah..Marjinal” asal Surabaya yang sangat berani dalam meperjuangkan haknya sebagai kaum buruh. Namun sayang belum sampai pada saatnya, marsinah wafat dalam tugas suci yang mulia akibat penyiksaan yang dilakukan oleh aparat berseragam loreng sebagai anjing-anjing peliharaan sang kapitalis.

Tidak hanya itu Marsinah pun menginspirasikan Marjinal dalam meriliskan album ketiga dengan judul album ”Marsinah” bercoverkan wajah marsinah dengan format hitam putih. Luar biasa, Judul lagu ”Marsinah” yang sama dengan judul albumnya, sangat familiar sekali karena banyak kalangan anak muda menyanyikan lagu ”Marsinah” di tongkrongan, studio musik, bahkan dalam sebuah pagelaran musik.

Di tahun 2005 Marjinal kembali menelurkan album ke-4 dengan tema sang ”Predator” yang terdiri kaset 1 & 2. Proses penggarapan album ke-4 ini sudah megalami kemajuan karena di dukung dengan alat yang mumpuni, sangat berbeda jauh sekali jika bandingkan album sebelumnya, baik di lihat dari design cover maupun hasil rekaman kaset.

Selama kiprahnya di industri musik indie, Marjinal sudah mengalami beberapa kali gonta-ganti atau bongkar pasang personil, dan sampai saat sekarang ini marjinal masih di perkuat oleh Romi Jahat (vocal), Mike (gitar), bob (bass), Proph (drum) yang kini untuk terus berjalan bersama agar tetap hidup berusaha menyampaikan pesan sebuah amanat penderitaan rakyat yang dituangkan dalam bentuk media musik.

Personil Marjinal :
Romi Jahat - Vokal
Mike - Gitar
Bob - Bass
Proph - Drum
read more...

Biography Banda Neira

Biografi Banda Neira
Banda Neira yang dikenal sebagai salah satu dari enam pulau di Kepulauan Banda, berada dalam tatanan geografis Maluku Tengah. Muncul Banda Neira dalam bentuk satu kelompok musik yang bermula dari keisengan Ananda dan Rara.

Dari keisengan proyek tersebut mereka mewujudkan banyaknya pendengar yang meluangkan waktu untuk menyimak karya-karya Banda Neira.




Mereka resmi memperkenalkan Banda Neira pada akhir Februari 2012 di lingkungan Universitas Parahyangan, saat itu bertepatan dengan Rara yang menyelesaikan jenjang pendidikannya.

Ananda dan Rara sudah lama menjalin pertemanan. Terpisah, karena Ananda harus pindah ke Jakarta meneruskan pekerjaannya sebagai wartawan Tempo sejak 2010. Kemudian bertemu kembali setelah Rara menyelesaikan studinya dan menjadi tenaga magang LSM Kontras.

Di paruh waktu istirahat kerja, karena tidak mau membiarkan materinya terhambur tak terurus Banda Neira dilanjutkan dan tetap memegang asas iseng dengan premis seru-seruan. Banda Neira memutuskan untuk merekam empat lagu dan menghasilkan mini album.

Tanggal 8 Agustus 2012, Banda Neira resmi memperkenalkan mini albumnya  yang berjudul "Paruh Waktu". Didalam album tersebut terdapat empat lagu, dengan judul “Di Atas Kapal Kertas,” “Ke Entar Berantah,” “Kau Keluhkan,” dan “Rindu” (Musikalisasi Puisi Subagio Sastrowardoyo) itulah keempat lagu yang mereka kategorikan sebagai Nelangsa Pop–kategori musik yang diberikan oleh temannya. 

Meskipun terpisah jarak yang bisa dipangkas melalui simulasi sosial media, Banda Neira tetap berjalan normal. Ananda dan Rara menaikkan sedikit level mereka dalam bermusik dari iseng menjadi iseng agak serius, bertolak dari respon baik sang pendengar Banda Neira yang menyimak Di Paruh Waktu.

Iringan lirik yang mudah dicerna membuat Banda Neira dengan mudah diterima secara senang hati. Mini albumnya, Di Paruh Waktu yang disebar secara gratis terbukti mendapatkan respon yang positif. Dari situ juga didapatkan informasi bahwa Banda Neira awalnya hanyalah bermusik secara iseng-iseng dan mempunyai jenis musik sebagai nelangsa pop. Mungkin saja karena lirik yang mereka tuliskan seputar risalah perasaan sedih.

Dari respon positif yang berawal dari iseng-iseng itulah Banda Neira berangkat menjadi serius. Pada 13 April 2013 album perdana mereka meluncur bebas setelah mendapatkan dukungan restu Sorge Records dan Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa Unpar. Album yang berisi sepuluh lagu ini diberi judul "Berjalan Lebih Jauh".

Judul album "Berjalan Lebih Jauh" bisa diartikan seperti keberangkatan awalnya yang hanya iseng-iseng dan tengah sampai ke tujuan keseriusan. Lalu, memulai pemberangkatan baru (serius) secara lebih jauh.

Personil Banda Neira :
Ananda Wardhana Badudu a.k.a Ananda - Gitar & Vokal
Rara Sekar Larasati a.k.a Rara - Xylophone & Vokal
read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Berita Menggemparkan All Rights Reserved.