Showing posts with label Live Review. Show all posts
Showing posts with label Live Review. Show all posts

Live Review : Sigur Ros Live in Jakarta

Live Review : Sigur Ros Live in Jakarta


Penampilan band Islandia, Sigur Ros di Jakarta menyajikan hal yang berbeda, tak seperti konser-konser kebanyakan, dalam arti harfiah. Tak selamanya musik hanya bisa dinikmati lewat telinga, namun, bagi Sigur Ros, musik pun harus dipadu dengan elemen-elemen lainnya seperti tata cahaya juga videography yang keren agar bisa memanjakan mata.

Hasilnya, selama dua jam pertunjukan, mereka menuntun penonton merenung, tercengang hingga turut bersenandung secara koor yang massif tanpa aba-aba.

Bertempat di Istora Senayan, Jakarta Pusat, malam ini, Jumat (10/5/2013), band beranggotakan Jonsi Birgisson (vokal dan gitar), Georg 'Goggi' Holm (bass) serta Orri Pall Dyrason (drum) itu sukses mengolaborasikan ketiga elemen tersebut di atas panggung.

Selama tampil, dengan suara falsetto-nya, sang pentolan band, Jonsi, khusyuk bernyanyi sambil memainkan gitar yang ia gesek bak biola.

Namun meski konsep musik yang ia bawakan bersama dua rekannya selama ini dikenal 'tak biasa', sekitar 2000-an penggemarnya yang hadir malam ini tetap terhanyut menikmati lagu yang mereka bawakan, diantaranya 'Vaka', 'Hrafntinna', Saeglopur, 'Svefn-g-englar', 'Varo', juga 'Olsen olsen', juga tembang terpopuler mereka 'Hoppipola + meo blo'nasir'.

Sayang, Sigur Ros tampak irit kata-kata, menyapa penggemar di Jakarta yang antusias menyaksikan penampilan mereka di atas panggung. Hanya sepatah dua patah yang mereka ucapkan seperti thank youatau thank you very much saja.

Namun, bagaimanapun juga, pertunjukkan band yang terbentuk sejak 1994 ini meninggalkan jejak bermakna di hati para fans di ibukota. Total 12 lagu yang mereka persembahkan terasa tak cukup. 

Para penonton pun berteriak seiring, lagu terakhir yang dibawakan berjudul 'Popplagio', menutup perjumpaan mereka dengan sebagian para penggemarnya yang pulang dengan hati hampa karena Sigur Ros tak memberikan bonus tampil dengan satu lagu lagi saja ketika teriakan 'We want more' membahana di seantero dinding Istora.
read more...

Live Review : Air Supply Live in Bandung

Live Review  Air Supply Live in Bandung


Air Supply kembali ke Indonesia di sebuah Minggu malam yang seakan menolak kedatangan hari Senin. Tanggal 5 Mei 2013, duo legendaris asal Amerika Serikat yang telah dikenal dunia sebagai pencetak banyak hits romantis ini akhirnya berkesempatan memamerkan masterpieces-nya (sekaligus menorehkan jejak sejarahnya) di depan para pecinta musik kota Bandung dalam rangka tur dunia, termasuk ke beberapa kota di Indonesia. Masyarakat Indonesia – seperti biasanya – seolah tidak pernah mengenal kata lelah dan bosan untuk memberi high-respect dan apresiasi terbaik untuk setiap kedatangan band/musisi kaliber dunia ke negeri ini. Hal ini terbukti oleh untaian baris demi baris antrian yang telah melilit tubuh Trans Lux Hotel (kawasan Trans Studio Bandung) sejak pukul 17.00 WIB.

Ratusan pengunjung yang hampir seluruhnya sudah berusia di atas 30 – bahkan di atas 40 tahun, merelakan diri untuk mengantri dari lantai satu. Sebuah antrian panjang yang tersambung rapat hingga ke lantai dua ballroom hotel tersebut – hanya terpisahkan oleh ekskalator yang dijaga oleh hotel security. Kami bisa menangkap bahwa ada jiwa-jiwa rocker yang tampak kehausan, walaupun hal tersebut tersembunyi di balik dandanan rapi dan penampilan necis mereka malam itu.

Duet-Russell mengawali penampilan memorable mereka tanpa basa-basi. Tanpa diawali oleh satupunopening performance, Air Supply dengan segera menggetarkan lantai dua Ballroom Trans Lux Hotel ketika jarum jam menunjukkan pukul 20.50 WIB, ketika penonton siap untuk memorize aksi mereka. Ucapan selamat malam dari mereka diwakili oleh tembang “Even The Nights”, dan disambung oleh “Just As I Am”. Penampilan fisik Graham Russell (vokal & gitar) dan Russell Hitchhock (lead vokal) malam itu persis dengan foto mereka dalam baligo raksasa yang beberapa bulan terakhir meramaikan jalanan Kota Bandung. Luapan histeris dari penonton segera berkumandang dengan frekuensi yang sejenis dengan histeria orang-orang yang menonton konser boyband. Mereka nampak flamboyan dan karismatik walaupun sudah “bermahkotakan” rambut putih.

Setelah sukses membawakan “Power of Love”, seluruh personil Air Supply beranjak sejenak ke belakang panggung, menyisakan Graham Russell di atas stage yang hanya ditemani oleh sangkeyboardist. Tiba-tiba ia bercerita bahwa pada malam itu ia akan membawakan sebuah lagu yang belum pernah Air Supply bawakan sebelumnya, ia bahkan menegaskan bahwa lagu itu belum pernah masuk ke album Air Supply manapun. Lagu tersebut berjudul “Fell From The Sky”, sebuah lagu adem yang hanya dipenuhi oleh petikan gitar akustik dari Mr. Graham. Sayangnya, sesi ini terganggu dengan kesalahan teknis dari segi sound. Gitar Graham Russell tiba-tiba mati, sehingga penampilan lagu tersebut tinggal menyisakan nada vokal saja. Namun ia tetap tenang dan terus bernyanyi. Dan dengan inisiatif yang professional, sang keyboardist segera bermain mengiringi Graham untuk mengembalikan atmosfir lagu tersebut di hati penonton.

Penampilan mereka mencapai klimaks ketika membawakan single “The One That You Love”. Russell Hitchock dan Graham Russell yang dibekali kabel-jack dan wireless-microphone menyanyikan lagu tersebut sambil berjalan-jalan mengelilingi kursi penonton. Penonton merasa sangat excited, mereka segera bernyanyi bersama. Hampir semua kamera dan alat perekam yang ada di tangan ratusan penonton segera terangkat ke udara dan jelas mereka berdua yang menjadi targetnya, sampai ada beberapa cipratanflash-light yang langsung menembak ke wajah personil Air Supply. Bahkan ada seorang wanita yang nekat berlari dan menembus penjagaan bodyguard untuk sekedar memeluk sang legenda selama beberapa detik.

Tiga tembang berikutnya, “Lost In Love”, “Sweet Dreams”, dan “Making Love”, memberi kesan elegan yang bertenaga. Lagu-lagu tersebut memiliki chord-progression yang sebenarnya istimewa, walaupun pada akhirnya banyak yang menilai lagu-lagu tadi sebagai musik yang sebatas mellow dan romantis saja. Sesi yang sebenarnya berpotensi menurunkan grafik adrenalin ini, sukses “terselamatkan” oleh stage-act sang band pengiring yang sangat ekspresif, enerjik, dan memiliki bahasa tubuh ala rocker sejati – sehingga mampu menjadi santapan visual yang tidak kalah menarik, di samping aura personil Air Supply itu sendiri (yang malam itu datang ke Bandung memang dalam kondisi sedang sangat dirindukan banyak orang).

Air Supply “mencoba” menutup penampilan mereka dengan ucapan selamat tinggal berbentuk lisan, sambil berlalu meninggalkan panggung yang disusul meredupnya lampu demi lampu. Kami merasakan ada sebuah kejadian lucu di sini. Nampaknya semua pihak sudah bisa membaca dengan jelas bahwa Air Supply sedang merencanakan encore. Penonton dari “kelompok tua” berdiri dari kursinya masing-masing sambil berkali-kali meneriakkan : “We want more!! We want more!! We want more….” sedangkan para penonton “kelompok muda” yang kebanyakan sejak awal sudah berdiri di baris paling belakang, hanya bisa bercanda dan tertawa-tawa. Ya, mereka cukup sadar bahwa Air Supply tidak mungkin menutup konsernya tanpa membawakan tembangnya yang paling tersohor : “Goodbye”.
read more...

Live Review : Mocca Swinging Friday

Live Review : Mocca Swinging Friday


Sebuah suguhan yang berbeda dari biasanya sengaja ditampilkan oleh band swing pop/indiepop asal Bandung, Mocca. Bagaimana tidak, band yang digawangi oleh Arina (vocal), Riko (gitar), Toma (bass), dan Indra (drum), yang biasanya tampil simple dan sederhana ini, kini mencoba menampilkan kemegahan musik mereka dalam sebuah balutan orchestra yang disajikan dalam gelaran bertajuk Mocca Concert Swinging Friday. Dengan menggandeng Orkestra Bumi Siliwangi sebagai pengiring, konser yang digelar atas gagasan Moving Box Entertainment ini digelar di Balai Sartika Convention Hall, Jalan Suryalaya Indah, Buah Batu, Jumat (3/5).

Pintu dibuka sekitar pukul 19.00. Para Swinging Friends pun kemudian mulai mengambil posisi di tempat duduk yang telah disediakan sebelumnya. Tak lama menunggu, satu per satu personil Mocca, diiringi kehadiran pemain Orchestra dari Orkestra Bumi Siliwangi, mulai mengisi panggung. Diiringi dengan tepuk tangan penonton, Mocca kemudian membuka konser malam itu dengan sebuah tembang berjudul ‘Listen to Me’.

Lagu yang juga pernah menjadi sebuah soundtrack salah satu film layar lebar tanah air ini memang sangat cocok diperdendangkan dengan padanan orchestra. Irama yang cenderung slow dan ringan ini pun kemudian disambut animo penonton yang menyambutnya dengan tepukan tangan yang cukup meriah. Seolah masih ingin memberikan pemanasan bagi para Swinging Friends, Mocca pun kemudian meneruskan beberapa tembang selanjutnya dengan nuansa yang sama-sama slow beat. Sebut saja, ‘Dear Diary’, ‘Lucky Man’, ‘Butterflies in My Tummy’, dan ‘Hyperballad’, yang mampu memukau para penonton malam itu.

Usai lagu ke lima, tampak Arina meninggalkan panggung. Tak lama setelah itu, muncul Riko ke depan dan memainkan dua lagu Mocca, yakni ‘Life Keeps on Turning’ dan ‘Happy’ secara instrumental. Tanpa Arina di panggung, para penonton pun secara spontan mulai menjadi menggantikan Arina bernyanyi. Sesekali terdengar koor penonton yang bernyanyi dan mengisi padanan musik instrumental Mocca bersama Orchestra di dua lagu tersebut.

Jeda sejenak, penonton pun kemudian disuguhkan video tentang perjalanan Mocca dari mulai terbentuk, hingga di umurnya sekarang yang telah lebih dari sepuluh tahun. Meski hanya sekedar tampilan foto slideshow yang diisi oleh sebuah narasi, tak menghilangkan esensi yang mendeskripsikan masa-masa manis Mocca mengukir namanya di kancah musik independen Indonesia. Seolah ingin merangkum cerita yang tergambar dalam video slideshow tadi, Arina kemudian muncul kembali dan ‘I Remember’ pun mulai dimainkan.

Setelah itu, sejumlah tembang klasik Mocca seperti ‘What If’, ‘I Think I’m in Love’, ‘This Conversation’, ‘Let Me Go’, hingga ‘Secret Admirer’ pun turut dimainkan. Para Swinging Friends yang nampaknya telah hapal betul setiap bait yang dinyanyikan, seolah menjadi backing vocal dalam penampilan Mocca malam itu. Tak hanya di situ, dengan tetap diiringi kemegahan orchestra, tembang lain seperti ‘You’, ‘My Only One’, ‘Me and My Boyfriend’, ‘Bundle of Joy’, ‘The Best Thing’, hingga anthem Swinging Friends, yang berjudul ‘Friend’ pun mampu membius para penonton dengan suguhan Mocca bersama Orchestra.

Sekitar 19 lagu dimainkan, video ke dua mulai diputar. Adapun video kali ini, menceritakan sejauhmana persiapan Mocca dalam menggarap Mocca Swinging Friday. Tapi ada sedikit kejutan di akhir video. Kejutan tersebut tak lain adalah ucapan selamat ulang tahun sang vokalis Arina, yang ternyata berulang tahun di tanggal 4 Mei. Semua kesan dan ucapan selamat pun datang mulai dari para personil, Swinging Friends, hingga Satpam sekolah semasa Arina mengeyam pendidikan di SMPN 2 Bandung yang turut tampil di video tersebut. Arina yang berada di panggung nampak terlihat kaget dengan surprise yang diberikan oleh penyelenggara beserta Swinging Friends ini. Kejutan malam itu pun kemudian dilengkapi dengan bentangan poster bertuliskan ‘Happy Birthday Arina’ dan kedatangan Swingin Friends yang membawa kue sembari menyanyikan lagu selamat ulang tahun ke atas panggung.

“Kecepetan sehari sih, tapi ga nyangka ni pada seperhatian gini. Terimakasih,” kata Arina yang tampak sangat terkesan dengan semua kejutan ini dan kemudian menutup set penampilan Mocca malam itu dengan lagu ‘Swing it Bob’ yang disusul kembang api tanda konser telah berakhir.

Tapi nampaknya, usai “Swing It Bob” yang di daulat sebagai lagu terakhir, kerinduan para penonton pun masih belum bisa terobati, beberapa dari mereka terdengar berseru “we want more…we want more”, pertanda masih mengharapkan setlist tambahan. Cukup lama berselang dan tak ada yang beranjak dari tempat duduk, para personil Mocca kemudian kembali hadir di panggung. Sontak penonton kembali semangat dan Mocca pun mulai memainkan ‘On The Night Like This ‘. Tak tanggung-tanggung encore yang diberikan pun cukup banyak, mulai dari ‘Do What You Wanna Do’, You and Me Against The World’, ‘Lucky Me’, hingga benar-benar ditutup dengan ‘Lifes Keep on Turning’. Encore-nya sendiri, kebanyakan merupakan request langsung dari penonton yang hadir malam itu.

Sebelum lagu terakhir dimainkan, Arina sempat berujar dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah banyak membantu dan mensupport Mocca selama ini. Ia mengucapkan terimakasih pada seluruh Swinging Friends yang tetap setia menunggu Mocca dan mengikuti perjalanan musik Mocca selama ini.
read more...

Live Review : Musick Bus Fest

Live Review : Musick Bus Fest Perayaan Makassar Untuk Record Store Day


Perwujudan Musick Bus menjadi semakin nyata dengan diadakan sebuah event pada pertengahan April ini, dengan bertajuk Musick Bus Fest 2013: On A Record Store Day pada tanggal 20 April 2013, sebagai bentuk penghargaan terhadap rilisan fisik dan sekaligus ikut merayakan Record Store Day yang juga diselenggarakan di berbagai kota dan negara lainnya.

Mengingat cuaca yang tidak menentu di Kota Daeng pada hari-hari sebelumnya diguyur dengan hujan deras, dikhawatirkan penyelenggaraan Musick Bus Fest 2013 ini bisa dibatalkan jika cuaca tidak seperti yang diinginkan.

Akhirnya pada hari H, cuaca di Makassar ternyata sangat cerah. Hal ini pastinya sangat menggembirakan, karena venue acara Musick Bus Fest ini diadakan di pelataran parkir Benteng Fort Rotterdam dengan settingan outdoor, kekhawatiran bisa terjadi jika hujan turun dengan deras, otomatis acara akan ditunda, bahkan dibatalkan. Belakangan memang cuaca di kota ini saya anggap tidak bisa diprediksikan tiap harinya,mungkin pengaruh dari pemanasan global juga.

Musick Bus Fest dimulai pada pukul 19.30 WITA yang disemarakkan dengan penampilan beberapa band Indie Makassar yang ikut meramaikan seperti Melismatis, Tabasco, Sir Ventury, Dunce Dance, Wildhorse, Dinary, Flowerecent Adolescent, dan V.I.P.

Selain penampilan band-band indie Makassar, Musick Bus Fest juga mengadakan sebuah pameran vinyl koleksi dari Musick Bus, dan juga beberapa vinyl yang dikoleksi oleh Rilo, sang pemilik Musick Bus.

Lapak buku juga hadir di acara ini. Bekerja sama dengan Kedai Buku Jenny, Vonis Media, dan Taman Indie Makassar, di lapak buku ini dijual beberapa buku-buku baru maupun buku-buku yang terbilang langka dicari.

Mellisa Ticoalu yang menjadi MC malam itu cukup atraktif memandu acara dan tak lupa pula saat jeda panggung, dia berinteraktif dengan penonton sembari mengadakan kuis dengan hadiah DVD dari Musick Bus.

Penampilan pertama Musick Bus Fest dari grup akustik Dinary dengan vokalis perempuan yang membawa beberapa lagu kover version. Aksi atraktif sang vokalis pun berhasil menarik penonton untuk lebih merapat lagi ke bibir panggung

Dilanjutkan dengan penampilan Flowerecent Adolescent yang membuai penonton dengan lagu mereka sendiri yang beraliran folk, dan mereka juga mengkover lagu dari Dido sebagai penutup penampilan mereka malam itu.

JK Ethnik kemudian menaiki panggung pada malam itu, setelah tadi penonton disuguhkan penampilan akustik nan minim, kali ini band dengan beraliran etnik jazz membawa beberapa buah lagu yang dicover dengan cara khas band yang mempunyai penampilan terunik malam itu. Dengan unsur etnik yang mereka bawa, penonton dibuat tersenyum dengan beberapa lagu seperti Home milik Michael Buble yang dibawakan dengan versi keroncong.

Dunce Dance pun naik panggung. Salah satu band pop punk terbaik yang dimiliki Makassar ini menghajar tiga buah lagu yang cepat dan menghentak. Dengan drummer yang memiliki pukulan cepat dan dua vokal yang lantang, penonton dibuat semangat dengan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri. Sebut saja “Insomnia”, salah satu lagu yang bertempo cepat mereka yang mempunyai lirik awal yang agak-agak absurd, “Marjan melon dalam botol infus….” .

Sir Ventury menjadi pusat perhatian selanjutnya bagi orang-orang yang semakin bertumpuk ingin menyaksikan rangkaian acara Musick Bus Fest di pelataran parkir Benteng Rotterdam malam itu. Dengan efek delay dan sedikit overdrive memekakkan telinga hasil olahan bunyi sang gitaris, Asnur (yang berperawakan jangkung dan berambut panjang hampir sebahu, hampir menyerupai gaya Jonny Greenwood dari Radiohead), Sir Ventury membawa penonton terhanyut ke dalam lagu-lagu ciptaan mereka sendiri seperti “Long Time” dan “Sleep”.

Malam semakin larut dan Tabasco menjadi band selanjutnya yang tampil. Band yang digawangi vokalis/gitaris dengan potongan rambut ikal ini, mengawali dengan lagu “Radio” milik mereka. Selanjutnya “Roller Coaster”, lagu ciptaan mereka yang sudah lalu lalang di beberapa radio di Makassar ini membuat beberapa penonton pun ikut sing along. Ditutup dengan teriakan panjang sang vokalis di lagu terakhir “Yellow Fragile Heart”, Tabasco menutup penampilannya dengan apik.

Selama penampilan Tabasco, mulai menyeret penonton makin merapat ke bibir panggung. Animo akan santapan mata dan telinga semakin tinggi setelah bersantap mengisi perut terlebih dahulu. Nyam!

Selanjutnya Melismatis dengan lima awak eksperimentalnya menghentak panggung dengan “Berlabuh”. Dengan hanya disinari lampu biru dari atas panggung, Melismatis menghipnotis penonton dengan semburan suara efek Reverb dari gitar hollowbody milik Juang. Gitaris bertubuh kecil ini mengocok gitar hitam mengkilapnya dengan hentakan drum dari Iksan dan teriakan lepas nan parau milik Dede yang diimbangi dengan permainan bas Hendra dan String/Piano milik Ari yang mampu membuat orang lupa bahwa lagu ini berdurasi hampir 10 menit.

Waktu telah menunjukkan pukul 23.00 WITA ketika Wildhorse, band rock and roll yang dikomandoi oleh Remi si vokalis mulai menyapa penonton yang masih setia menunggu sampai acara ini kelar. Dengan Epiphone SG berwarna merah cherry, Remi menyambut intro lagu milik mereka sendiri, “The Black Motorcycle” yang dimulai oleh permainan keyboard/piano Caca, yang sedikit mengingatkan pada sound-sound vintage a la The Doors dan BRMC.

Setelah dihujani lagu-lagu yang menurut saya menarik dari beberapa band sebelum band terakhir ini, band terakhir di Musick Bus Fest ini adalah V.I.P. Band yang membawakan beberapa lagu kover version dari beberapa band rock seperti Andra & The Backbone dan Creed, yang sudah tidak asing di telinga dan terdengar sedikit membosankan.

Ada beberapa catatan yang cukup menarik terlepas dari kesuksesan Musick Bus membuat acara Musick Bus Fest untuk merayakan Record Store Day Sedunia.

Yang pertama, Makassar secara perdana merayakan Record Store Day tepat pada tanggal 20 April dengan cukup meriah dan sepertinya saling bertautan dengan acara seminggu sebelumnya yang juga diadakan untuk menyambut perayaan Record Store Day bertajuk REWIND yang juga berlangsung di Makassar.

Kemudian masih minimnya informasi tentang Record Store Day ini mungkin sedikit terjawab dengan event Musick Bus Fest. Ketika para penggemar rilisan fisik masih kurang dimanjakan dengan adanya event seperti ini, yang memang gagasannya mengenalkan kepada seluruh orang khususnya para kolektor ikut mengajak untuk membeli rilisan fisik, tentunya dengan kualitas yang bagus dan harga yang terjangkau.

Yang menarik justru atensi dari para penikmat musik di Makassar yang tampak di Musick Bus Fest ini, sepertinya mulai mengalami transisi pada apreasiasi terhadap band-band indie Makassar. Terlihat dari crowd di Musick Bus Fest yang sangat ramai ketika band – band indie tersebut membawakan lagu mereka sendiri.

Musick Bus telah melakukan tugasnya dengan baik tahun ini dengan memberikan cara nyata bagaimana mengapresiasi karya musisi-musisi luar maupun dalam negeri.

Respon Makassar untuk kembali mengapresiasi rilisan fisik yang sempat mengalami penurunan penjualan semenjak masuknya era internet, bisa bangkit lagi perlahan-lahan dengan adanya fasilitator semacam Musick Bus yang ingin menumbuhkan lagi minat para penggemar musik untuk membeli rilisan fisik yang notabene bentuk perwujudan karya nyata dari musisi yang mereka gemari.

Diharapkan tidak hanya Musick Bus Fest yang merayakan Record Store Day, namun bisa dirayakan lagi di kota ini dengan lebih meriah dimana semua penggiat musik di kota Makassar ikut membantu dan mendukung acara yang bisa dibilang langka di kota ini
read more...

Live Review : Saturday Swing with Mocca

Live Review Saturday Swing with Mocca - Lorong Musik dot Com

Besarnya harapan dan dukungan Swinging Friends– sebutan bagi para penggemar Mocca - untuk membawa sang frontwoman kembali ke Tanah Air begitu kuat. Mulai dari munculnya gerakan 1000 dukungan Twibbon tahun lalu hingga kesediaan salah satu kampus di Bandung yang bernyali menerbangkan Arina dari Long Beach, California, AS ke Indonesia untuk bermain di acaranya adalah bukti betapa besar kecintaan para Swinging Friends hingga mampu mengaburkan status vakum Mocca.

Sejak memutuskan vakum pada Juli 2011 lalu karena sang vokalis, Arina Ephipania bertolak ke Amerika Serikat untuk menikah dan membangun keluarga di sana, tercatat sudah dua kali Arina kembali ke Tanah Air dan pada kenyataannya toh Mocca tak benar-benar vakum.

Tercatat sebagai salah satu kota besar di pulau Jawa yang sering dilewati Mocca dalam agenda tur perpisahan mereka ketika status vakum digembar-gemborkan sekitar satu-dua tahun lalu, Swinging Friends Surabaya benar-benar memanfaatkan momen kedatangan Moccca akhir pekan lalu.

Sekadar informasi, beberapa agenda krusial menjelang vakumnya Mocca, seperti pemutaran film dokumenterMocca, Life Keeps On Turning hingga gelaran Secret Show dapat dipastikan tak pernah diadakan di kota Pahlawan ini.

Beruntung, Sabtu lalu sebuah konser intim bertajuk RSCH Saturday Swing With Mocca sukses dihelat oleh Ouval RSCH di kota Surabaya. Total hampir lima ratus Swinging Friend hadir di acara yang dihelat di Colors Pub & Resto tersebut.

Itu adalah kapasitas terpenuh tempat ini mengingat konsep venue kali ini sebenarnya adalah Pub & Resto dimana idealnya konser yang diadakan di dalam venue ini adalah konser indoor skala kecil dengan suguhan meja dan kursi bagi para penontonnya. Praktis sebuah stand up gigs penuh sesak pun terjadi di venue ini. Dapat dibayangkan betapa padat dan intimnya konser saat itu.

Tampil sesuai jadwal, Arina Ephipania (vokal), Riko Prayitno (gitar), Achmad “Toma” Pratama (bass), dan Indra Massad (drums) naik ke atas panggung tepat pukul 8 malam. Sorakan Swinging Friends pun menyambut keempat personel Mocca yang malam itu hadir dengan bantuan additional keyboardist namun minus brass section.

Single “What If...” dari album pertama My Diary membuka konser dengan apik. “Selamat malam Surabaya! Sambutannya meriah sekali, terima kasih. Akhirnya kami kembali ke Surabaya. Ini seperti konser nostalgia bagi kami,” ungkap Arina dari atas panggung.

Sebagai catatan, Colors Pub & Resto pernah menjadi lokasi tur konser Mocca ketika melakukan promo albumMy Diary sekitar sepuluh tahun yang lalu di Surabaya. Jika Anda adalah salah satu Swinging Friends lama Surabaya dan hadir dalam konser sepuluh tahun lalu pasti akan merindukan masa-masa eksklusif mendengarkan dan melihat Mocca dari dekat tanpa harus berdesak-desakkan seperti Sabtu lalu.

Koor massal pun mendadak meninggi ketika lagu “I Remember” dibawakan. Sebuah lagu yang cukup populer karena sempat menjadi soundtrack film Catatan Akhir Sekolah dan siapa pun -jika Anda tidak termasuk Swinging Friends- bisa menyanyikannya walau dengan terbata-bata.

Selain “I Remember”, “Do What You Wanna Do” pun bisa menjadi momen terbaik sing a long penonton malam itu. Seperti gimmick di konser-konser Mocca sebelumnya, Arina pun mengajak para penonton bersahut-sahutan di bagian verse lagu ini. Lagu-lagu hits lainnya seperti “I Would Never”, “Lucky Me”, dan “The Best Thing” tak luput dibawakan malam itu.

Yang menjadikan konser malam itu begitu istimewa adalah Mocca memberikan kesempatan bagi Swinging Friends yang datang di acara Meet and Greet siang harinya untuk melakukan request lagu-lagu yang mereka inginkan sebagai set list malam itu.
read more...

Live Review : Pesta Rilis Album Banda Neira

Lorong Musik dot Com




Acara peluncuran album perdana Banda Neira, duo yang berdomisili di Jakarta dan Ubud. Sepasang yang menyebut diri mereka sendiri sebagai “Band Nelangsa Pop” karena lirik-lirik lagu mereka yang dianggap nelangsa ini meluncurkan album pertama mereka, Berjalan Lebih Jauh, Sabtu (13/4) malam di Chinook Resto & Cafe. Acara peluncuran album pertama unit yang beranggotakan Ananda Badudu di gitar dan vokal serta Rara Sekar Larasati di vokal dan xylophone ini juga diisi dengan penampilan Rusa Militan dan Deu Galih & Folks sebagai pembuka.

Acara dimulai pukul 19.00, dibuka dengan penayangan video “Di Balik Banda Neira” yang menceritakan proses pembuatan album. Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan dari Rusa Militan yang membawakan 3 lagu. Deu Galih & Folks kemudian maju ke depan tak lama setelah Rusa Militan selesai. Kedua band pembuka ini berhasil menghipnotis para penonton yang menunggu penampilan empunya acara.

Semakin malam, keadaan kafe berangsur ramai. Penyelenggara acara terpaksa membuat para penonton bergeser ke depan agar semua penonton dapat menyaksikan penampilan para artis. Beberapa penonton duduk di lantai dan sudut-sudut kafe agar penonton yang lain dapat melihat penampilan para artis yang hadir. Keadaan kafe yang pengap mereka sanggupi demi menunggu penampilan yang mereka tunggu-tunggu, Banda Neira.

Penampilan mereka lalu dibuka dengan “Di Atas Kapal Kertas”. Band yang sering latihan di rumah makan sepi, taman, dan bahkan mushola ini berhasil membuat penonton kagum dengan lagu pembuka mereka.

Nanda, yang bekerja sebagai wartawan, menetap di Jakarta, sedangkan Rara tinggal di Ubud, Bali. Hal ini membuat keduanya jarang bertemu untuk latihan. Namun, kendala tersebut tidak terlihat mencolok saat mereka tampil. Keduanya tampil membawakan lagu-lagu di album baru mereka dengan baik walaupun sesekali tampak gugup.

Lagu “Di Beranda” yang dipersembahkan untuk kedua orang tua mereka tak lupa dimainkan malam itu. Lagu ini menceritakan percakapan antara ayah dan ibu yang merindukan anaknya untuk pulang. Menurut Chandra Badudu, ayah Nanda yang ikut hadir dalam acara peluncuran album, lagu tersebut sering diputar di rumah mereka. Selain keluarga Nanda, keluarga Rara juga turut hadir dalam acara ini.

Keduanya juga memainkan lagu yang belum pernah dimainkan sebelumnya yang berjudul “Berdansa (Percakapan Pohon dan Daun)”. Mereka lalu meminta para penonton untuk ikut bernanyi bersama mereka. Lagi-lagi, Nanda kembali memuji penonton. “Kalian hebat sekali, belum pernah dengar lagunya tapi langsung bisa!” ujarnya setelah lagu selesai.

Musikalisasi puisi “Rindu” karya Subagio Sastrowardoyo dan lagu “Ke Entah Berantah” yang diambil dari EP mereka, Di Paruh Waktu, juga turut dimainkan malam itu. EP yang bisa diunduh gratis lewat akun Soundcloud mereka inilah yang membuat Banda Neira cukup dikenal para penontonnya yang hadir.

Penampilan mereka malam itu lalu dilanjutkan dengan lagu yang menceritakan pengalaman bersepeda Rara saat masih bekerja di ibukota, “Senja di Jakarta”. Nanda dan Rara lalu berinisiatif masuk ke tengah-tengah penonton di lagu terakhir yang berjudul “Berjalan Lebih Jauh” yang diambil dari album perdana mereka. Keceriaan Banda Neira ternyata membuat para penonton masih belum puas melihat permainan gitar yang apik dari Nanda dan suara merdu Rara beserta permainan xylophone-nya yang manis. Banda Neira pun menambahkan lagu “Hujan di Mimpi” untuk menutup penampilan mereka.

Album perdana Banda Neira ini sepenuhnya diproduksi oleh Koperasi Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Parahyangan (KKBM Unpar) Bandung dibawah nama Sorge Records. Bantuan biaya dan moral yang dikerahkan seluruh anggota KKBM Unpar ini merupakan bentuk support mereka kepada kedua anggotanya, Nanda dan Rara, dalam menampilkan kreativitas mereka. “KKBM Unpar adalah orang-orang pertama yang percaya musik Banda Neira layak digarap,” ujar Nanda. Sukses untuk album perdana kalian, Banda Neira! Semoga semakin banyak kampus-kampus yang mengikuti jejak KKBM Unpar untuk membantu produksi musik para anggotanya.
read more...

Live Review : "Punk Rock Show" Konser Tunggal Rosemary


Area lapangan Gasibu memang kerap dijadikan sebagai tempat pertunjukkan musik. Namun untuk sebuah event berupa konser tunggal, Rosemary merupakan band pertama yang melakukannya. Mengusung nama “Punkrock Show”, band yang saat ini beranggotakan Gatot (vokal/gitar), Ink (vokal/gitar), Fajar (bass), Denny (drum), dan Bane (terompet) tersebut memberikan penampilan spesial di hadapan ribuan WARS (sebutan fans Rosemary) yang hari itu datang dari berbagai daerah. Berlangsung pada Sabtu (9/3), acara ini juga turut diramaikan oleh suguhan extreme sport skateboard dan BMX di depan stage.

Meskipun konser baru dimulai pada pukul 7 malam, para WARS sudah mulai tampak berdatangan sejak hari masih terang. Beberapa di antaranya bahkan sampai sengaja menyewa sebuah elf dari luar kota. Dengan memakai atribut khas, mereka pun tak ketinggalan memasang spanduk bertuliskan asal daerah masing-masing: Rancaekek, Ciwidey, Cianjur, Garut, Kuningan, Karawang, hingga Palembang! Seperti magnet, event ini ternyata sanggup menarik mereka untuk bersenang-senang bersama dalam satu tempat bersama.

Diawali berturut-turut oleh “Siti Batang”, “That’s All”, “My Fault”, “Heroes”, “Fans of Freedom”, dan “The Words”, Rosemary datang membawakan hidangan pembuka musikalnya yang disambut meriah oleh penonton. Mereka tak hentinya menyapa dan mengutarakan rasa bahagianya bisa menggelar konser tunggal pada hari itu. Selanjutnya penampilan BMX dan skateboard mengambil alih perhatian di panggung. Berbagai aksi ekstrim dipertunjukkan lewat skill mumpuni dari para pemainnya. Tak ketinggalan, video dari beberapa kejuaraan nasional juga turut ditampilkan melalui dua layar besar di kanan dan kiri panggung.

Tak lama berselang, Lookass Tcukimay pun muncul dan “I Never” dari Noin Bullet serta “Drunk Song” pun berkumandang bersamaan dengan kembali hadirnya para personel Rosemary ke panggung. “Kenapa ada BMX dan skateboard? Karena Rosemary lahir dari sini!” ujar Gatot. “Kita bangga malam ini main punk dan santai. Pokoknya apapun aliran musiknya, respect! Rosemary sangat bangga hadir di sini. Jangan mencibir kalau belum ngerasain jatuh dari sepeda dan keringetan di papan. Kayak gini butuh keahlian yang nggak sebentar. Semoga olahraga ini nggak mati. Semoga pemerintah baru lebih respect dan bisa lihat prestasi anak muda. Bandung needs skatepark!!” sambung Ink bersemangat sembari teriak yang disambut meriah penonton.

Selain membawakan “Hell Yeah”, “Friends”, dan “War is Over”, Rosemary juga berkolaborasi dengan musisi lainnya seperti Bobby Kool Superman is Dead dalam “We Are Skatepunkers” dan “Kill All The White Man”-nya NOFX. Kejutan lainnya pun hadir dengan munculnya Gania Billfold yang turut melemparkan “Super Girl” dan “Punk Girl” ke hadiran penonton. Tak hanya itu, penampilan mereka pun turut diberi warna oleh Gebeg. Battle drum antara Gebeg dengan Denny jadi sajian pembuka yang dinamis sebelum akhirnya Rosemary membawakan “Beautiful Horse”.

“Lihat Kau Lihat Mereka” yang diteruskan dengan “Punk Rock Show” akhirnya jadi pamungkas dari perjalanan konser yang berjalan selama dua jam tersebut. Diiringi dengan letupan kembang api warna-warni yang ditembakkan ke udara, pesta skatepunk pada malam itu pun usai dengan sumringah yang terus tampak di setiap wajah semua orang yang hadir. Secara keseluruhan, gelaran konser tunggal dari band yang terbentuk sejak tahun 1996 ini berjalan aman dan tertib. Tentu saja ini sebagai pembuktian bahwa konser musik di Bandung tak hanya sanggup merayakan sebuah karya berkualitas, tapi juga menularkan semangat menjaga ketertiban bersama.

[Sumber. gigsplay]
read more...

Live Review : Reuni The Stone Roses, Senayan, Jakarta

Lorong Musik
The Stone Roses tidak malu-malu menunjukkan keinginan mereka untuk dipuja. Sebagai contoh, album perdana mereka rilisan 1989 yang bertajuk sama dengan nama band dibuka lewat lagu berjudul “I Wanna Be Adored” dan kemudian ditutup menggunakan “I Am the Resurrection”.

Asumsi belaka memang, namun faktanya tak ada yang lebih pantas dibanding memuja mereka terutama setelah vokalis Ian Brown, gitaris John Squire, bassist Gary “Mani” Mounfield, dan drummer Alan “Reni” Wren sepakat untuk membangkitkan kembali grup musik yang mereka perkuat tersebut pada pertengahan 2012 silam.

Puja-puji pun dengan liar hilir mudik di Lapangan D Senayan, Jakarta pada Sabtu (23/2) lalu selaku lokasi dan tanggal dilaksanakannya konser perdana The Stone Roses di Indonesia yang digelar oleh promotor Flux and Play. Bahkan jauh sebelum konser berjalan, orang-orang yang hadir sudah memuja The Stone Roses lewat atribut wajib mulai dari kaos band The Stone Roses, jaket dan/atau sepatu Adidas, hingga, tentu saja, topi pancing a la Reni.

Kedatangan The Stone Roses sudah lama dinanti penikmat musik tanah air, apalagi saat kuartet asal Manchester, Inggris tersebut sudah lebih dulu menyambangi negara tetangga, Singapura, pada Juli 2012, yang berarti hanya berjarak satu bulan setelah menjalankan konser pertama mereka sejak mengumumkan reuni.

Maka tak mengherankan saat dentuman bass fenomenal Mani untuk� lagu “I Wanna Be Adored” berkumandang direspon dengan seruan penonton yang mengikuti nada dari bassline tersebut; sebuah prosesi yang hampir selalu terjadi di setiap konser The Stone Roses, layaknya ambil wudhu sebelum bersembahyang. Lirik pembuka “I don’t have to sell my soul, he’s already in me” yang juga diikuti penonton menjadi panjatan doa penanda ibadah sudah dimulai.

“I Wanna Be Adored” menjadi pembuka set The Stone Roses yang dihiasi dengan lagu-lagu terbaik di sepanjang karier mereka. Merupakan hal langka bila koor massal penonton tak terdengar di sepanjang konser. Seakan sudah bersiap diri, mereka turut menyanyikan baris demi baris lirik lagu seperti “Sally Cinnamon”, “Ten Storey Love Song”, “Shoot You Down”, “Fool’s Gold”, “Waterfall”, “Don’t Stop”, sampai lagu penutup “I Am the Resurrection”.

Jika berbicara momen musikal, bagaimana seksi ritme Mani dan Reni menjahit lagu “Where Angels Play” dengan “Shoot You Down” menjadi salah satu yang terbaik. Begitu pula dengan eksplorasi gitar panjang John Squire yang liar, mengingatkan akan Jimmy Page pada masa kejayaannya, pada penutup lagu “Fool’s Gold” dan “I Am the Ressurection”.

Belum lagi kedisiplinan mereka dalam membawakan “Don’t Stop” yang merupakan versi terbalik dari lagu “Waterfall”. Tata suara memang sempat bermasalah dan mengusik kekhusyukan, namun problem tersebut tak mampu membendung rasa nikmat yang dialami penonton. Berselancar di kerumunan bahkan terjadi beberapa kali diantara penonton baris depan.

Bagi massa Anything But United (sebutan bagi pembenci klub sepak bola Manchester United), bagian akhir konser di mana Ian Brown mengambil bendera Manchester United dari penonton dan kemudian menciumnya bisa saja jadi ganjalan, namun toh pada akhirnya penonton tetap bersorak meminta encore walau tak digubris oleh pihak band.

Ian Brown, John Squire, Mani, dan Reni lebih memilih untuk berpelukan satu sama lain dan memberi hormat kepada penonton yang ada di hadapan dibanding berbasa-basi akting bahwa konser sudah usai. Sebuah gestur penutupan yang manis dari salah satu band dengan persenyawaan musikal terbaik dari Tanah Britania.
read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Berita Menggemparkan All Rights Reserved.