Biography Tony Q Rastafara

Biografi Tony Q Rastafara
Tony Q Rastafara adalah pria asal Semarang, kota kecil di Jawa tengah, Indonesia, terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih. Lahir dari keluarga sederhana, bakat seni nya telah terihat sejak masa kanak-kanak terutama di dalam bidang seni lukis dan musik. Tony berkenalan dengan dunia musik melalui teman-temannya dan banyak terpengaruhi oleh jenis musik rock dan blues.

Selepas menyelesaikan pendidikannya di sekolah kejuruan tehnik (STM) Tony memutuskan untuk memulai karier bermusiknya di kota semarang sebagi pemusik jalanan sejak tahun 1980, hingga membuatnya dekat dengan kehidupan musisi jalanan kota Semarang.


Di kota kelahirannya tersebut, Tony sempat membuat album kompilasi anak jalanan dengan teman-temannya dan pernah menjuarai beberapa festival musik jalanan.

Karena ingin mencoba tantangan baru dalam bermusik maka dia pun hijrah dan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, ibukota Indonesia. Karena kehidupannya yang dekat dengan musisi jalanan, Tony pun kembali masuk ke komunitas yang sama di Jakarta. Dengan bantuan dari seorang teman yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia musisi jalanan Jakarta, Tony pun memberanikan niatnya untuk memulai karier musik di Jakarta sebagai pengamen. Menghibur dan bermain musik dari satu tempat ke tempat lainnya di seputaran pinggiran jalan Jakarta.

Di pertengahan tahun 1984, atas anjuran seorang teman, Tony mulai berkenalan dengan musik country dan mulai mencoba memainkan jenis musik yang pada saat itu belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia karena belum banyak musisi yang memainkan genre musik tersebut. Dari eksistensinya bermain musik country, Tony mulai mendapat teman dari kalangan ekspatriat di Jakarta, salah satunya adalah teman-teman dari komunitas kedutaan amerika serikat di Jakarta. Beberapa kali Tony di undang untuk tampil di acara-acara yang diselenggarakan oleh kedutaan amerika serikat dan atas bantuan dari teman-teman di kedutaan dia berhasil mendapatkan undangan untuk bermain di salah satu festival musik country terbesar di amerika yaitu Grand Old Opree yang bertempat di Tennese Amerika Serikat. Akan tetapi dikarenakan kurang adanya dukungan secara finansial, rencana untuk tampil di festival tersebut tidak dapat terealisasikan. Sekian lama bermain musik country Tony mulai merasakan kejenuhan dan merasa bahwa kariernya di musik country tidak berkembang hingga dia memutuskan untuk keluar dari band countrynya dan mulai mencoba mencari jenis musik lain yang lebih sesuai dengan jiwanya.

Tony mulai berkenalan dengan musik reggae di awal tahun 1989, ketika ia jatuh cinta pada sosok legenda musik reggae Bob Marley. Tidak saja terinspirasi dengan musiknya, lirik-lirik lagu dalam setiap Bob Marley benar-benar mengusik naluri bermusiknya, hingga ia yakin untuk memilih berkarier di musik reggae dan mulai mencoba eksis di genre musik tersebut. Di tahun yang sama Tony membentuk band reggae pertamanya yang diberi nama “Roots Rock Reggae”. Band pertamanya tersebut mulai mengawali kariernya dengan main di pub dan cafe-cafe seputaran Jakarta memainkan lagu-lagu milik Bob Marley,Jimmy Cliff dan lain-lain dengan Tony sebagai lead vocal dan lead guitar. Di dalam perjalanannya karier musik reggae nya, Tony sempat membentuk band-band reggae lainnya, seperti “Exodus”, kemudian “Rastaman” dan pada tahun 1994 dia membentuk band yang dikemudian hari ikut membesarkan namanya di dunia musik reggae Indonesia yaitu “Rastafara”.

Dengan Rastafara, karier musik Tony mulai menanjak, dikarenakan pada masa itu sangat jarang musisi band yang memainkan genre musik reggae di jakarta, maka Rastafara cukup dikenal luas di kalangn penikmat musik reggae. Rastafara pada saat itu dianggap sebagai pelopor musik reggae Indonesia dikarenakan merupakan satu-satunya band reggae yang berani untuk membawakan lagu ciptaan sendiri dan berusaha lepas dari bayang-bayang musik reggae ala jamaika dan hampir keseluruhan lagu-lagu Rastafara di ciptakan oleh Tony.

Pada tahun 1995, atas bantuan seorang teman, Rastafara berhasil mendapatkan tawaran untuk rekaman album dari Warner Music Indonesia. Dan akhirnya album perdana bertajuk “Rambut Gimbal” di rilis pada tahun 1996. Album tersebut mendapat respon yang sangat baik, dan berhasil memberikan warna baru dalam industri musik Indonesia yang pada saat itu sedang di dominasi oleh musik Alternative Rock. Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony ,lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah “Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.

Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Aransemen musiknya sepintas juga terlihat mencampurkan unsur-unsur musik melayu.
Pada tahun 1997, kontrak album dengan label musik nya tidak diperpanjang dan Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara.

Pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album secara independent pada tahun 2000 yaitu “Damai Dengan Cinta”. Pada album ke tiganya ini lah Tony mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Amerika memberikannya referensi kepadanya untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony ke Amerika.

Pada tahun 2003 albumnya yang ke empat berjudul “Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis.

Kedekatan Tony dengan aktivis LSM dan NGO seperti Green Peace, WALHI,dan lain-lain memberikannya inspirasi untuk membuat album yang mempunyai visi dan misi sosial dan kemanusian yang lebih mendalam dan berarti. Maka pada tahun 2005 lahirlah album kelimanya yang bertitel “Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur musik orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional yang semakin kental.

Di penghujung tahun 2005, kembali atas bantuan referensi dari teman lamanya, Professor musicology dari Amerika Serikat, salah satu lagu dari album ketiganya “Damai Dengan Cinta” yaitu “Pat Gulipat” berhasil masuk dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan titel “Reggae Playground” yang telah dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengaharumkan nama Tony Q sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.

Setelah sekian lama berkecimpung di dunia indie label, maka Tony pun mencoba untuk kembali merilis albumnya di major label pada tahun 2007 dengan titel “Anak Kampung”.Nuansa album ke enam nya ini masih mencoba untuk memadukan unsur musik reggae dengan tradisional indonesia dan semakin didominasi oleh lagu-lagu yang bertema sosial, membuat musiknya pun banyak digemari oleh masyarakat kelas menengah kebawah terutama mereka yang berasal dari wilayah luar Jakarta.
Basis penggemar yang semakin berkembang, Tony pun mulai mencoba memfasilitasi keinginan penggemarnya dengan membentuk fans club yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga sampai ke negeri tetangga Singapore, Malaysia dan Australia. Pada awal tahun 2009 bertepatan dengan berlangsungnya pesta demokrasi di Indonesia yaitu pemilihan umum Presiden, Tony pun kembali merilis album ke tujuhnya secara independen dengan titel “Presiden” proses rekaman album ini pun sepenuhnya di lakukan di Sydney, Australia. Di album terbarunya tersebut Tony benar-benar ingin memberikan nuansa dan tema politik yang cukup kental demi menyambut dan menanggapi jalannya pemilihan umum Presiden Indonesia.Aransemen musiknya pun semakin bervariasi, Tony kembali bernostalgia dengan musik country, dimana ia coba memasukan unsur gitar banjo khas musik country di album tersebut.

Pada pertengahan tahun 2009, setelah melalui proses yang cukup panjang maka demo lagu yang pernah coba di tawarkan pada sebuah label world musik bernama Cumbancha dari Amerika Serikat milik mantan A&R dari label world music Putumayo, Jacob Edgar,dari Amerika Serikat sejak tahun 2008 pun akhirnya berhasil mencapai kesepakatan. Cumbancha memberikan kesempatan dan tawaran untuk merilis lagu-lagu Tony secara internasional. Album itu sendiri rencananya akan di rilis pada awal tahun 2010 secara internasional yang juga akan di edarkan di Indonesia.

Autobiography
Nama Lengkap : Tony Waluyo Sukmoasih
Nama Panggilan : Tony Q
Nama Musisi : Tony Q Rastafara
Tempat/Tgl Lahir : Semarang / 27 April 1961
read more...

Biography Pure Saturday

Biografi Pure Saturday
Pure Saturday adalah grup musik asal kota kembang Bandung. Resmi berdiri pada tahun 1994. Pada awalnya Pure Saturday (PS) terbentuk karena iseng-iseng saja. Mereka ngeband kalo lagi tidak ada kegiatan dan sekalian nunggu hasil UMPTN. Tempat kumpul dan latihan biasanya di rumah Suar, di gudang rumah. Gudang bekas pabrik gitar disulap jadi tempat latihan band dan proses pembuatan lagu-lagu.

Dari keisengan itu pula mereka mencoba membuat lagu dan ternyata satu sama lain menemukan kecocokan. Yah... iseng-iseng berhadiah lah... Lalu dibuatlah kesepakatan untuk ngeband secara serius dan mulai mencari kegiatan musik yang diselenggarakan di Bandung. Tapi waktu itu (tahun 1992) namanya masih Tambal Ban bukan Pure Saturday. Akhirnya nama "Tambal Ban" diganti, soalnya terlalu pasaran dan ngga jelas artinya. Apalagi mau ikutan Festival Musik Unplugged (Tahun 1994), harus punya nama yang keren dong.

Akhirnya terpilihlah nama "Pure Saturday" yang tercetus secara spontan. Nama ini diambil karena hari Sabtu merupakan hari latihan, sejak pagi hingga menjelang subuh. Jadi maksudnya hari Sabtu itu benar-benar merupakan hari kerja buat mereka. Disamping itu, untuk mengisi kekosongan waktu anak-anak Pure Saturday yang saat itu masih pada jomblo, maka dari pada bengong berhayal yang tidak-tidak mendingan ngeband. Begitulah motto hidup mereka.

Tahun yang sama Pure Saturday berhasil menjuarai festival musik unplugged se-Jawa dan DKI dengan lagu yang mereka ciptakan sendiri Enough. Di festival ini Pure Saturday mendapat Juara Pertama kategori Umum. Wah... keren... Sejak saat itu Pure Saturday jadi semakin sering bikin lagu. Karena kemenangan tersebut, Pure Saturday semakin terkenal dan dikenal terutama oleh para barudak musik Bandung. Hampir setiap acara yang digelar di Bandung selalu mengundang Pure Saturday. Yah... istilahnya tiada Pure Saturday tiada bazar dan acara. Nampaknya Pure Saturday merupakan sesajen yang ampuh untuk memelet para penonton. Tidak hanya turun naik panggung, tapi Pure Saturday juga sering keluar masuk stasiun radio di Bandung.

Ketenaran Pure Saturday ini membuat Ambari (ini nama orang lho!) berminat membuatkan Pure Saturday album lewat jalur Indie Label. Pada saat itu manajer Pure Saturday adalah adiknya Yuki yang tidak lain dan tidak bukan adalah vokalis PAS. Nah... PAS ini mempunyai seorang manajer yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ambari. Antara manajer Pure Saturday dan PAS ternyata terjalin hubungan yang baik... yah... sedikit nepotisme nggak apa-apa lah... Kesepakatan pun dibuat sambil mencari orang yang mau memodali biaya produksi. Akhirnya ada juga seorang teman yang baik yang mau membiayai.

Percaya diri mulai tumbuh dan berkembang dan bersemi pada tubuh Pure Saturday dan mulai membuat komposisi-komposisi musik yang akhirnya cukup kuat untuk sebuah album perdana. Akhirnya Pure Saturday mencoba hadir di blantika musik Indonesia. Mereka banyak mendapat pengaruh dari grup-grup asal Inggris seperti The Cure, Ride, My Bloody Valentine, Wonder Stuff dan lain-lain.

Album perdana Pure Saturday ini digarap secara independen dan dipasarkan secara mail order lewat sebuah majalah remaja di Jakarta. Pada saat itu Pure Saturday membuat 5.000 kopi saja. Beberapa bulan setelah album tersebut muncul, ada produser rekaman yang melirik mereka dan akhirnya mereka pun membuat kontrak dengan Ceepee Production. Lagu-lagu pada album pertama itu adalah Silence, Kosong, a song, Desire, Simple, Enough, Open Wide dan Coklat. Lagu Kosong kemudian dipilih untuk dibuatkan video klipnya.

Album yang berisi delapan lagu ini ternyata mendapat sambutan yang bagus, karena dinilai lagu-lagu Pure Saturday masih fresh, dan tidak mengikuti trend musik saat itu. Pure Saturday datang dengan warna yang lain, maksudnya diantara musik-musik keras yang saat itu sedang naik, Pure Saturday malah menyuguhkan musik yang slow tapi gahar. Mungkin seperti slogan acara Resurrection... "Awake against mainstream and proud of it". Yah begitulah kira-kira. Boleh dibilang album mereka laku keras. Saat masih diedarkan sendiri 700 kopi yang terjual. Sedangkan melalui distribusi Ceepee Production terjual sebanyak 2000 kopi. Pure Saturday sangat mensyukuri anugerah ini meskipun banyak yang menilai musik mereka sangat berbeda. ''Berarti kita sudah diakui dan keinginan kita agar berbeda dari yang lain terwujud,'' seru Ade.

Kegiatan bermusik membuat urusan akademis (sekolah) mereka terbengkalai. Akhirnya, mereka mencoba untuk membenahi urusan akademis terlebih dahulu. Hal itu malah membuat mereka tidak bisa berkumpul dan membuat lagu. Di kondisi waktu yang terbatas mereka mencoba lagi untuk membuat komposisi-komposisi yang akhirnya selesai, kemudian masuk studio rekaman dan selesai awal 1999. Untuk album kedua mereka dikontrak oleh PT. Aquarius Musikindo. Album kedua ini diberi judul "Utopia".

Menapaki jalur indie bagi mereka merupakan satu strategi, selain agar dikenal publik lebih luas juga agar mereka tidak dipermainkan produser jika menempuh jalur Major Label. ''Kalau kita sudah mengeluarkan album indie, produser tidak bisa seenaknya lagi menyuruh kita ganti warna musik, karena sebelumnya kita sudah punya fans sendiri,'' papar Udhie.

Pure Saturday sempat vakum sebelum pada akhirnya Suar mengundurkan diri pada tahun 2004. Posisi Suar kemudian digantikan oleh sang manajer, iyo. Pada Maret 2005, Pure Saturday kembali hadir dengan album ketiganya yang berjudul "Elora". Kehadiran Pure Saturday kali ini dengan formasi barunya dan dengan membawa label baru, Fast Forward Records.

Pada tahun 2007 lewat Time For A Change, Time To Move On, sebuah koleksi lagu yang didominasi materi lama yang direkam ulang dan pada tahun 2012 Pure Saturday merilis album keempat berjudul "Grey" yang sepenuhnya berisi lagu baru oleh grup asal Bandung ini.

Pada album Grey, Pure Saturday turut didukung oleh beberapa tamu istimewa. Single pertama “Lighthouse” menampilkan permainan piano oleh Hendi “Unyil” Priyatna dari grup The Milo, sementara Rektvianto Yoewono dari The SIGIT menyumbangkan vokal secara spontan pada “Utopian Dreams”, sebuah lagu akustik kalem yang tiba-tiba tercipta saat berada di studio rekaman. Tapi bisa dibilang tamu kehormatan utama di album ini adalah Yockie Suryoprayogo, musisi legendaris yang pertama kali berkolaborasi dengan Pure Saturday pada tahun 2011 dalam Djakarta Artmosphere, acara musik tahunan yang menampilkan kolaborasi antar musisi lintas generasi.

Personil Pure Saturday :
Aditya Ardinugraha a.k.a Adhi - Gitar
Yudistira Ardinugraha a.k.a Udhi - Drum
Ade Purnama a.k.a Ade - Bass
Arief Hamdani a.k.a Arief - Gitar
Satrio NB a.k.a Iyo - Vokal
read more...

Power Slaves Siap Kembali Meramaikan Panggung Musik Rock Indonesia

Lorong Musik dot Com
Lorongmusik.com – Power Slaves untuk saat ini memang memiliki jadwal show yang cukup padat, namun mereka juga masih fokus dalam menggarap video klip untuk single teranyar milik mereka yang berjudul ‘Ku Tunggu’.


Band yang kini berpesonilkan Heydi Ibrahim (vocal), Anwar Fatahillah (bass) dan Wiwiex Soedarno (keyboard) memang telah ditinggalkan oleh gitarisnya Acho Jibrani tidak lama setelah mereka merilis album.

Terlepas dari hal tersebut, belum lama ini Heydi sang vokalis mengatakan bahwa single ‘Ku Tunggu’ merupakan single andalan milik mereka yang berada di album ’100% Rock N Roll’.

“Memang kita sudah merencanakan untuk pembuatan video klip ini, karena kita lihat lagu ini merupakan lagu yang cukup banyak request-nya di radio-radio,” tutur Heydi.

Untuk sutradara video klip single tersebut, digarap oleh Andhy Pulung yang sebelumnya juga pernah menjadi sutradara untuk video klip Power Slaves yang berjudul ‘Indonesia’.

Band yang cukup berjaya di era 90-an ini memang hadir kembali untuk membuktikan eksistensi mereka di belantika musik Indonesia. Suara Melengking khas Heydi Ibrahim tentu membuat karya dari Power Slaves tetap dinikmati oleh penggemar musik rock Indonesia.

Manajer dari Power Slaves yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Kereta Rock N Roll Label & Management, Indra Budi, menyatakan bahwa tengah mempersiapkan strategi untuk Power Slaves ke depannya.

Salah satu strategi tersebut adalah memberikan konsep berbeda dalam penggarapan video klip single terbaru Power Slaves kali ini. Konsep video tersebut, dibuat lebih berani dengan memberikan unsur adegan-adegan menegangkan. Mari kita tunggu saja hasilnya akan seperti apa.
read more...

International Metal Festival "Hammersonic 2013" Siap Digelar Dengan Dua Stage Berkapasitas Dua Ratus Ribu Watt

Lorong Musik dot Com
Lorongmusik.com – Seperti yang telah dikabarkan sebelumnya, festival musik keras yang disebut-sebut sebagai festival musik cadas terbesar se-Asia Tenggara, yaitu Hammersonic Festival, akan segera diselenggarakan untuk kedua kalinya pada tanggal 27 dan 28 April mendatang di Ecopark, Ancol, Jakarta. Venue dari Hammersonic tersebut merupakan kawasan hijau dengan luas kurang lebih 34 hektar.

Nama-nama band cadas dari mancanegara telah diumumkan sebagai pengsisi acara, diantaranya seperti Cradle Of Filth, Epica, Dying Fetus, Cannibal Corpse, As I lay Dying, Obituary, Lock Up, Destruction, Putrid Pile, Hour Of Penance, Gorod dan band lainnya.


Dan dari dalam negeri sendiri, band-band seperti Power Metal, Edane, Sucker Head, Burgerkill, Seringai, Dead Vertical hingga Hellcrust juga masuk sebagai pengisi acara tersebut.

Dua stage yang didirikan oleh Revision Live selaku Promotor akan membagi rata band-band tersebut untuk tampil. Berdasarkan informasi yang diterima, Hammersonic Festival 2013 ini juga akan didukung oleh tata suara yang kapasitasnya mencapai 200 ribu watt.

Untuk penjualan tiket sendiri, kini Hammersonic telah mencapai tahap presale dengan harga jual Rp. 225 ribu untuk 1-Day Pass dan Rp. 375 ribu untuk 2-Day Pass. Harga tersebut hanya akan dijual sampai dengan tanggal 31 Maret nanti.

Dan mulai tanggal 1 hingga 28 April, harga yang diberlakukan merupakan harga normal, yaitu Rp. 300 ribu untuk 1-Day Pass dan Rp. 500 ribu untuk 2-Day Pass.

Sebelumnya secara online, pihak promotor juga telah menjual tiket dengan harga early bird yang diberlakukan dari tanggal 4 hingga 10 february lalu melalui situs resmi mereka yaitu www.hammersonic.com. Kabar yang diterima, pihak promotor mengakui telah menjual lebih dari 10 ribu lembar tiket.

Pada tahun lalu, festival musik cadas tersebut juga telah sukses menampilkan band-band luar biasa seperti Suffocation, Nile, D.R.I, Psycroptic, Chthonic, Burgerkill, Seringai, Deadsquad, Noxa dan yang lainnya di hadapan puluhan ribu penonton yang datang ke Lapangan D Senayan, Jakarta.
read more...

Bring Me The Horizon Siap Rilis EP Bertitel "Deathbeds"

Lorongmusik.com - Sebagai pemanasan sebelum merilis album baru, Bring Me The Horizon bakal merilis sebuah EP bertajuk "Deathbeds" bulan ini.


Album mendatang mereka, Sempiternal, siap dirilis 2 April mendatang. "Menulis 'Sempiternal' adalah proses yang sama sekali berbeda," komentar Sykes. "Kami bekerja dengan komputer, mengerjakan ide-ide dan riff tanpa lelah sampai kita memiliki apa yang kita inginkan." Di album ini, ada Jordan Fish, anggota baru yang mengisi keyboard. "Membawa Jordan ke dalam mix mengubah banyak hal, ia membuka banyak kemungkinan."

Album baru Bring Me The Horizon nanti akan menjadi album studio mereka yang keempat menyusul tiga lainnya yakni Count Your Blessings (2006), Suicide Season (2008) dan There Is a Hell, Believe Me I've Seen It. There Is a Heaven, Let's Keep It a Secret (2010).
read more...

Biography Afternoon Talk

Biografi Afternoon Talk
Afternoon Talk dibentuk awal 2011 di Bandar Lampung, Ide dibentuknya grup musik ini dimulai ketika Osa dan Sofia mengobrol sekitar tentang kesamaan mereka menjadi penggemar musik dan rasa ingin tahu mereka untuk membuat lagu. 

Kemudian, mereka secara spontan mengatakan "Mengapa tidak kita membuat sebuah band?" Mungkin pada saat itu Sofia berpikir bahwa dia punya ide yang sama dengan Osa. Hari-hari berikutnya, Osa disajikan Ridwan sebagai mitra musiknya dan temannya selama bertahun-tahun sekolah tinggi untuk bergabung dengan band. Sejak saat itu mereka mulai membuat musik bersama-sama dan memutuskan untuk memilih Afternoon Talk sebagai nama band.

Menurut mereka nama "Afternoon Talk" berasal dari seperti ketika Anda berada di sore malas berbicara tentang segala sesuatu yang bisa didiskusikan dengan keluarga, teman, bahkan orang asing. Musik mengalir seperti percakapan, dan Anda tidak tahu topik berikutnya yang akan dibahas.

Pada tahun 2011 juga, Afternoon Talk mulai mecoba untuk membuat lagu "ada satu hal yang harus Anda ketahui" di kamar tidur yogi dan lagu dirilis sebagai download gratis yang membuat Afternoon Talk terlihat di kota mereka, terutama di scene musik independen. Pada bulan Juli 2011, mereka diundang untuk tampil di Java Rocking Land, di Indonesia musik rock festival internasional, bersama Sir Dandy, Rocket Rockers, dan banyak lainnya.

Pada bulan Februari 2012, mereka memulai tur ke 5 kota di Jawa, mengisi tempat di kota-kota dari Jakarta ke Bandung, Yogyakarta ke Surabaya dan Malang untuk memperkenalkan mini album mereka dan mendapatkan perhatian nasional dan tenggara asia scene musik.

Tidak lama kemudian, band ini merilis debut EP pada Maret 2012. Self-titled mini album berisi lima lagu secara resmi dirilis oleh net label, Hujan Records. 

Afternoon Talk menawarkan masyarakat suatu suara akustik dengan lebar dimensi dimana koridor "Elastis" dengan variasi yang berbeda dari augmentations musik sederhana tanpa meninggalkan konsep kesederhanaan dalam musik mereka. 

Afternoon Talk mencoba untuk terjun dan menggabungkan cara mereka sendiri bermain. Dengan berbagai pengaruh, Afternoon Talk selalu mencoba untuk berbaur dengan perkembangan yang musik dan gagasan utama mereka bekerja. Lagu "Ada satu hal yang harus Anda ketahui" menceritakan perasaan kerinduan dan menjadi bersama-sama dengan orang yang kita cintai. 

Afternoon Talk menggabungkan dan terinspirasi oleh suara tropis tradisional budaya Indonesia. Budaya lokal dianggap sebagai harta karun, melainkan merupakan hal yang esensial yang tidak dapat dipisahkan dari identitas mereka.

Seiring waktu berlalu, sekarang ini Afternoon Talk didukung oleh musisi tambahan Juliawan Jarwo dan Adian Atmaja. Drum dan perkusi dalam lagu-lagu beberapa pembicaraan sore Afternoon Talk EP kedua mendatang yang dilakukan oleh Jarwo.

Tak lama setelah itu, mereka bersembunyi di studio dan mulai bekerja pada EP kedua, "Kontradiksi", yang akan dirilis dalam waktu Indonesia beberapa pada Mei 2013.

Personil Afternoon Talk :
Osa - guitar, ukulele
Sofia - vocals, glockenspiel, melodica
Ridwan - guitar, bass, drums, percussion
read more...

Biography Mocca

Biografi Mocca
Mocca adalah kelompok musik indie asal Bandung. Grup ini beranggotakan Riko Prayitno (gitar), Arina Ephipania (vokal dan flute), Achmad Pratama (bass), dan Indra Massad (drum).

Pada mulanya Arina dan Riko merupakan teman satu kampus di Institut Teknologi Nasional (Bandung). Mereka tergabung dalam sebuah band kampus tahun 1997-an. Karena tidak cocok dengan anggota yang lain, Arina dan Riko pun sepakat mendirikan "Mocca". Dua tahun kemudian mereka bertemu dengan Indra dan Toma. Indra dan Toma merupakan teman satu kampus, mereka belajar desain produk di Institut Teknologi Nasional (Bandung), dan bergabung ke Mocca pada waktu yang sama.

Mocca pertama kali mucul dalam kompilasi Delicatessen (2002), dan langsung merebut hati penggemar.

Satu tahun kemudian mereka mengeluarkan debut album mereka "My Diary" (2003) dengan label indie "FFWD". Album ini meldak di pasaran. Lagu-lagu seperti "Secret Admirer" dan "Me and My Boyfriend" menjadi hits di mana-mana. Video klip "Me and My Boyfriend" mendapat penghargaan sebagai "best video of the year" versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.

Bahkan mereka menandatangani kontrak dengan salah satu indie records di Jepang, Excellent Records, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi book set (3 Set) yang berjudul "Pop Renaisance". Ada 3 disc yang diedarkan di Jepang dan Mocca berada di disc no. 2 dengan lagu "Twist Me Arround".

Lagu-lagu Mocca sendiri menggunakan bahasa Inggris dengan alasan memudahkan penulisan syair serta kesesuaian dengan warna lagu pop dengan sentuhan swing jazz, twee pop, dan suasana ala 60-an.

Mocca kembali merilis album kedua mereka tahun 2005 bertajuk "Friends" masih dibawah label indie, Fast Forward Record. Dalam album ini Mocca tidak tampil sendirian. Mereka menggaet dua musisi andal untuk memperkaya musik mereka. Dari dalam negeri, mereka menghadirkan Bob Tutupoli untuk mengisi suara dalam lagu "This Conversation" dan lagu yang khusus dibuat untuknya, "Swing It Bob". Mereka juga berduet dengan musisi asal Swedia, Club 8. Bersama duo asal Swedia ini, Johan dan Karolina Komstedt, Mocca membawakan lagu "I Would Never".

Karier Mocca semakin menanjak. Tak hanya di dalam negeri, mereka mengembangkan sayap ke Asia. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang telah menikmati album mereka. Pada tahu 2005, Mocca menggelar konser di Singapura dan menampilkn The Rock Angels Band.

Mocca juga terlibat dalam pembuatan lagu soundtrack. Kuartet ini pernah mengerjakan soundtrack film "Catatan Akhir Sekolah" karya Hanung Bramantyo dan soundtrack sinetron TV "Fairish the Series".

Mocca juga membuat sebuah mini album berisi 6 lagu, 2 di antaranya berbahasa Indonesia. Mini album ini sebelumnya berjudul "Sunday Afternoon", tapi dirilis dengan judul "Untuk Rena". Mocca terinspirasi naskah cerita film anak-anak berjudul "Untuk Rena". Mocca tak hanya mendapat inspirasi. Mereka juga mendapat kesempatan untuk memasukkan "Happy!" dan "Sebelum Kau Tidur" sebagai soundtrack film garapan Riri Riza itu.

Tahun 2007, Mocca mengeluarkan album ketiga mereka, "Colours". Album ini memuat materi baru, termasuk 2 cover song yaitu “Hyperballad” (Bjork) dan “Sing” (The Carpenters) serta sebuah kolaborasi dengan Pelle Carlberg (Edson) yang kemarin sempat menjadi tamu di LA Light IndieFest, dalam lagu “Let Me Go”.

Dalam live performance-nya selain empat personel utama, dulu Mocca menggunakan format big-band yang dibantu oleh beberapa additional player, antara lain pada gitar, perkusi, keyboard, trompet, trombone, dan saxophone. Tetapi seiring berjalannya waktu, sekarang Mocca hanya dibantu oleh dua additional player, yaitu Agung pada Keyboard dan Tomi pada Trompet.

Mocca baru saja merilis album untuk publik Korea Selatan berjudul "Happy". Album ini dirilis label yang selama ini menangani karya-karya Mocca di Korsel, Beat Ball Music Records.

”Album itu rilis akhir 2010, berisi lagu-lagu the best Mocca. Di sini kita malah belum rilis album the best,” kata Riko Prayitno, gitaris Mocca. Di Korsel, Mocca memang memiliki nama besar karena lagu-lagunya banyak dipakai iklan dan soundtrack drama.

”Tidak tahu kenapa di sana banyak yang suka. Kalau kami jalan-jalan di mal sana, enggak asing kalau ada lagu Mocca diputar,” kata Riko. Kemungkinan, itu karena orang Korea suka lagu-lagu bernuansa jazz dan swing.

Mocca tidak menyangka jika tanggapan masyarakat Korsel begitu bagus. Album-album Mocca juga dirilis di negara lain, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Taiwan, Hongkong, dan Filipina.

Personil Mocca :
Arina Ephipania a.k.a. Arina - Vokal dan Flute
Riko Prayitno a.k.a. Riko - Gitar
Achmad Pratama a.k.a.Toma - Bass
Indra Massad a.k.a Indra - Drum
read more...
Home - About - Order - Testimonial
Copyright © 2010 Berita Menggemparkan All Rights Reserved.